PRIHATIN, itulah yang saya rasakan ketika dunia olahraga juga tak lepas dari indikasi kecurangan, penyimpangan bahkan korupsi.
Namun, saya mesti realistis bahwa merubah dunia olahraga daerah menjadi lebih baik tentu tak mudah, terlalu banyak yang terlibat dan tentu punya kepentingan masing-masing.
Melalui tulisan yang sedikit ini, karena tak guna juga berpanjang lebar jika pemangku kepentingan tidak ada niat berubah, saya coba menyentil. Tujuannya agar ada perbaikan, perubahan dalam tubuh PSSI Kalsel.
Agak malu sebenarnya kalau harus menyorot lembaga di seberang sana, karena di dalam KONI Banjar sendiri juga masih banyak yang mesti dievaluasi dan diperbaiki bahkan dirubah.
Berkait gelaran cabor sepakbola Porprov XII Kalsel di Tala 2025. Ada sejumlah pertandingan yang berakhir walk out tim ketika melawan tuan rumah Tala.
Sebelumnya Tabalong, sebelumnya ada juga. Dan yang terakhir, insiden semifinal antara Tala melawan Banjar, Selasa (11/11/2025) sore di Stadion Pertasi Kencana, Pelaihari.
Pihak Banjar melalui Sekretaris KONI Banjar Irwan Bora menyayangkan kepemimpinan wasit yang banyak merugikan Banjar.
Menurut Irwan, semua pihak yang berkecimpung dalam dunia olahraga mesti memerangi kecurangan, ketidakadilan sampai perbuatan mufakat untuk menindas dan pembunuhan karakter anak-anak yang punya bakat dalam dunia olah raga.
“Dengan adanya event Porprov di Tala, juara umum dan perolehan emas tidak menjamin tumbuh dan berkembangnya dunia olahraga di Kalsel kalau dengan segala cara tetap diamalkan untuk meraih kemenangan dengan cara-cara kotor,” ungkapnya.
Para petinggi KONI Banjar bahkan merasa kajanggalan sudah terjadi sebelumnya ketika futsal. Maka dari itu disampaikan surat protes resmi ke Asprov PSSI Kalsel dan pihak terkait.
Sekretaris Askab PSSI Banjar Supriadi mengaku sedih karena tak tega melihat anak-anak yang masih muda namun impiannya tergadai oleh dugaan kecurangan perangkat pertandingan.
“Anak-anak sudah mengerahkan segala kemampuan dan mengorbankan sekolahnya untuk berlaga sejauh ini. Namun, hasilnya tak sesuai harapan mereka,” ucapnya.
Jika terbukti, apakah gelar medali Tala bisa dicabut? Bisa saja jika berkaca pada kasus calciopoli Italia, di mana gelar scudetto Juventus dicabut karena terbukti memanfaatkan mafia wasit untuk membantu kemenangan dan meraih juara.
Taroh lah gelar masih selamat, namun setidaknya ada upaya nyata perbaikan bagi kualitas dan kredibilitas perwasitan di daerah kita demi mewujudkan dunia olahraga khususnya sepakbola dalam tatanan sportivitas yang tinggi, seiring prestasi olahraga.
Jika pemuncak PSSI Kalsel tak mampu membersihkan dugaan mafia wasit ini, mungkin sebaiknya mundur saja. Siapa tahu ada figur lain yang lebih mampu, dan bisa membangun PSSI dengan lebih baik.
Kabarnya, penonton tuan rumah pun kurang puas kalau kemenangan harus dibantu oknum mafia wasit, karena sama seperti kemenangan dan juara yang zahirnya seolah hebat namun hakikatnya memprihatinkan.








Tinggalkan komentar