,

UPP Bukan Penghormatan kepada Pejabat

DALAM perhelatan besar olahraga apalagi sekelas multi cabor, seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalsel di Tala, 1-14 November 2025 lalu ada catatan kecil tersisa.

Pada banyak agenda, pasti tersisip ada acara UPP yang kepanjangannya Upacara Penghormatan Pemenang.

Pemenang akan naik podium, sebagai pahlawan atau patriot bagi daerahnya masing-masing. Mereka layak mendapat kehormatan karena tidak semua atlet bisa melakukannya. Apalagi untuk mencapai itu diperlukan latihan yang tak sedikit, puluhan galon keringat, rasa nyeri, lelah bahkan berdarah.

Para atlet selain mempertaruhkan harga dirinya, tentu membela dengan sepenuh jiwa kehormatan panji daerahnya masing-masing. Makanya para atlet itu digelari patriot olahraga. Saat itu mereka lah yang jadi duta-duta daerah. Mereka layak dikedepankan ketika telah mencapai prestasi puncak, yakni anugerah di podium.

Sayangnya, ketika UPP, protokol atau pihak panpel cabor banyak keliru menempatkan kesakralan UPP. Justru UPP bukan menghormati atlet pemenang, namun tetap saja seperti seremoni di birokrasi atau lembaga politik. Kursi kehormatan selalu saja ditempati para pejabat itu.

Di luar negeri seperti acara penyerahan piala grand slam misalnya, para pejabat yang akan menyerahkan piala hanya berdiri berjejer di samping podium. Sementara atlet calon penerima piala atau medali duduk di kursi sebelum dipanggil ke podium menerima piala/medali.

Kalau di kita, terbalik. Atlet yang sudah lelah dan akan menerima medali kehormatan malah dibiarkan berdiri seperti peserta upacara, yang duduk malah para pejabat itu.

Filosofi podium dibuat lebih tinggi bahkan dari pejabat yang mengalungkan medali sudah menandakan bahwa UPP itu milik para patriot olahraga atau atlet. UPP sama sekali bukan tempat pejabat-pejabat birokrasi dan politisi tampil. Ini adalah panggung para atlet. You know that?

Besok-besok, dan seterusnya para protokol atau panpel cabor harus merubah kebiasaan jelek dan tak pantas ini, menjadi lebih berkelas dan bermartabat bagi para patriot olahraga.

Ingat, para atlet calon penerima medali harus ditempatkan lebih terhormat. Saat itu merekalah pahlawannya. Sediakan mereka kursi duduk, sebelum dipanggil dan beranjak ke podium. Lain kali, para pejabat yang hendak mengalungkan medali, berjejer saja di samping podium.

Didik generasi muda kita agar tidak melulu terobsesi jadi orang-orang birokrat kantoran atau orang-orang politik yang kebanyakan juga kerap mengkhianati rakyatnya.

Biar UPP menjadi gambaran bagi generasi muda bahwa menjadi pejuang olahraga juga tak kalah gengsi dan terhormatnya ketimbang mereka yang gemar berjas dan berdasi itu.

(Adi Permana, S.Sos, Humas KONI Banjar, Kalsel)

Tinggalkan komentar