Indonesia di Piala Dunia Tenis Davis Cup

Italia juara bertahan Davis Cup

TAK bisa dipungkiri, era 80-an adalah masa keemasan dunia tenis putra Indonesia. Bahkan, Indonesia sebagai macan Asia kala itu. Beberapa petenis putra kita ditakuti lawan-lawan untuk level Asia. Mengulik sekelumit kisah perjalanan Indonesia yang pernah dua kali menembus Grup Dunia kejuaraan tenis beregu putra tersebut.

“Mungkin banyak yang masih ingat bila Indonesia pernah dua kali masuk Group Dunia Davis Cup, yaitu pada tahun 1983 dan 1989. Yang top Tintus dua kali pemain inti tunggal. Tunggal Tedjo (Yustedjo Tarik -red) dan Tintus, Ganda Tedjo/Hadiman,” ujar coach Hadiman, salah satu legenda hidup tenis Indonesia, kepada ayotenis.com, beberapa waktu lalu.

“Banyak yang lupa, karena tahun 1983 gak mikirin dokumentasi dan lain-lain, mikirnya cuma bisa tenis dan berangkat LN sudah seneng. Tahunya setelah jadi CNP (capten non playing) pada tahun 1989,” coach Hadiman melanjutkan cerita.

“Tahun 1983 saya selalu main ganda dengan Yustedjo dan menang, lawan-lawannya lupa, kalau gak salah final-nya ngalahin Korsel. Yang pasti kita harus menang tiga kali baru bisa juara zone Asia, untuk masuk grup dunia yang 16 negara,” tambahnya.

Pria yang pernah menukangi sekolah tenis KTKG itu menambahkan, ia beserta punggawa timnas tenis Indonesia lainnya mengaku sangat bangga bisa menjuarai Davis Cup zone Asia sekaligus lolos ke Grup Dunia.

“Wah kala itu kita ditakuti di Asia. Ini kan gak mudah. Jadi kita sangat bangga.” ujar coach Hadiman mengenang.

Ketika itu ia sudah memprediksi bila keberhasilan tim Davis Cup Indonesia masuk Grup Dunia akan sulit terulang untuk rentang waktu yang panjang.

“Tahun 1989 saya ngomong ke pemain DC INA bahwa 25 tahun lagi kita belum tentu bisa masuk group dunia. Bener saja, sekarang sudah 30-an tahun kita belum mengulangi capaian tahun 1983 dan 1989,” lanjutnya.

“Grup DC selalu 16 negara. Urut-urutannya: 1.World group 16 negara terbagus, 2.Group I jg 16 dibawah WG, 3.Group II juga 16, 4. Group III juga 16. Kemarin kalau kita vs Venezuela kalah, maka turun ke group III. Beruntung menang jadi masih bertahan di group II,” tandas coach Hadiman.

Pada tahun 1983 Indonesia bersaing dengan 15 negara lainnya di World Group, yaitu: Amerika Serikat, Argentina, Australia, Britania Raya, Chile, Czechoslovakia, Denmark, Irlandia, Italia, Paraguay, Prancis, Rumania, Selandia Baru, Swedia dan Uni Soviet.

Dalam undian babak utama memperebutkan tiket perampatfinal, Indonesia kala itu harus berhadapan dengan Swedia, raksasa Eropa. Pertandingan di Swedia, 4-6 Maret 1983. Hari pertama, Tunggal pertama Tintus Arianto Wibowo takluk 4-6, 2-6, 5-7 dari Anders Jarryd. Kemudian Yustedjo Tarik versus Mats Wilander juga kalah 2-6, 2-6, 1-6.

Hari berikutnya, ganda kita Hadiman/Yustedjo Tarik takluk atas Anders jarryd/Hans Simonsson 2-6, 3-6, 3-6. Hari terakhir, Mats Wilander yang era itu beberapa kali juara Grand Slam menyudahi Tintus Arianto Wibowo 6-3, 6-3. Juga Anders Jarryd menang 6-3, 6-1 atas Yustedjo Tarik. Indonesia kalah 0-5. Swedia selanjutnya melaju terus hingga ke final sebelum akhirnya dikalahkan Australia 2-3.

Sementara pada edisi tahun 1989 Indonesia bersaing dengan 15 negara lainnya, yakni Amerika Serikat, Australia, Austria, Czechoslovakia, Denmark, Israel, Italia, Jerman Barat, Meksiko, Paraguay, Prancis, Spanyol, Swedia, Uni Soviet dan Yugoslavia.

Dalam undian, di babak utama 16 besar, Indonesia satu-satunya wakil dari benua Asia harus berhadap-hadapan dengan juara bertahan Jerman. Pertandingan diadakan di Stuttgart, Jerman pada 3-5 Februari 1989. Tunggal pertama Abdul Kahar Mim kalah 0-6, 1-6, 1-6 dari Boris Becker petenis nomor satu dunia yang juga beberapa kali menggenggam gelar Grand Slam. Kemudian Tintus Arianto Wibowo juga takluk atas Carl Uwe Steeb 1-6, 2-6, 3-6. Ganda Indonesia Suharyadi/Donald Wailan Walalangi juga kalah 2-6, 4-6, 1-6.

Di hari berikutnya, gantian Carl Uwe Steeb yang mengalahkan Abdul Kahar Mim 6-2, 6-2. Tunggal terakhir, Tintus Arianto Wibowo juga mesti mengakui kdigdayaan Boris Becker 2-6, 5-7. Indonesia kalah 0-5 atas Jerman yang akhirnya kembali juara dunia setelah di final mengalahkan Swedia 3-2.

Abdul Kahar Mim sempat berkomentar usai pertandingan kalau servis Boris Becker begitu kencang sampai-sampai raket di pegangan Abdul Kahar bergetar hebat kala pengembalian bola.

Memang tenis tak sepopuler sepakbola, namun sejak Indonesia merdeka 1945, tenis putra pernah mencatatkan diri berlaga di putaran final Piala Dunia tenis Davis Cup sebanyak dua kali, 1983 dan 1989.

Memang harus diakui, perkembangan tenis putra Indonesia sedang surut, dibanding putrinya. Tim putra Indonesia saat ini berada di Grup II Dunia yang berjumlah 26 negara. Ini adalah kasta ketiga dalam dunia tenis putra. Pada 18-20 September 2026 mendatang, Indonesia memperebutkan tiket play off ke Grup I Dunia (kasta kedua dunia). Dalam undian, Rifqy Fitriadi dkk akan berhadapan dengan Rumania di Jakarta.

Sebagai gambaran, Indonesia dalam rilis badan tenis internasional ITF (International Tennis Federations) berperingkat 65, sedangkan Rumania 46 dunia. Raja tenis dunia saat ini dipegang Italia yang diisi Jannik Sinner dkk. (ayotenis/adi)

Tinggalkan komentar