
Oleh: Adi Permana – Martapura, Tanah Banjar
Kitab-kitab tarikh selalu menulis satu kalimat pendek: “Muhammad berdagang ke Syam.” Tapi kitab tarikh hampir tidak pernah menulis gamblang: Apa yang sebenarnya terjadi di Aden, pelabuhan paling ramai di selatan Jazirah Arab itu?
Padahal, sebelum dilantik menjadi Nabi terakhir pada usia 40 tahun, ada 25 tahun masa muda Muhammad yang dihabiskan di jalur dagang Mekah – Aden. Aden abad ke-6 bukan pasar biasa. Jika Mekah adalah pasar suku, maka Aden adalah pasar dunia.
Di Aden, kapal-kapal dari Busra (Syam) di utara bertemu dengan kapal-kapal dari Zabag (Nusantara – Sriwijaya) di timur. Di sanalah rempah Banjar, kapur barus Sumatera, dan cengkeh Maluku bertukar dengan kurma dan kain Yaman.
Jika di Syam, Muhammad muda yang baru berusia 12 tahun dikenali oleh Rahib Buhaira lewat tanda awan yang menaungi dan Khatamun Nubuwwah di punggungnya, maka logika sejarah bertanya: Siapa yang ia temui di Aden, di jalur timurnya?
Inilah opini saya: Muhammad muda juga belajar dengan orang-orang suci Nusantara.
Dalilnya Justru Ada di Dalam Qur’an Sendiri
Al-Qur’an sendiri merekam kecurigaan orang Quraisy dengan jujur.
Pertama, QS An-Nahl: 103.
“Dan sungguh Kami tahu bahwa mereka berkata: Sesungguhnya dia diajar oleh seorang manusia. Bahasa orang yang mereka tuduhkan itu adalah bahasa Ajam, sedangkan Al-Qur’an ini bahasa Arab yang jelas.”
Kata “Ajam” berarti non-Arab. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan nama-nama yang dituduh mengajari Muhammad: Addas budak dari Niniwe, Salman Al-Farisi, dan bahkan seorang budak dari Zabag. Tuduhan ini tidak muncul dari ruang kosong. Orang Quraisy melihat dengan mata kepala sendiri, Muhammad muda di Pasar Ukaz dan Aden sering duduk lama, berdiskusi mendalam dengan pedagang-pedagang asing.
Kedua, QS Al-Furqan: 4-5.
“Mereka berkata: Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang dahulu, dia minta dituliskan, lalu dibacakan pagi dan sore.”
Kata “Asatirul Awwalin” (dongeng orang dahulu) adalah cerita-cerita kebijaksanaan lama yang didengar Muhammad dari kakek-kakek pedagang tua di Aden. Cerita tentang banjir besar, tentang raja-raja timur, tentang Zulkarnain yang sampai ke tempat terbit matahari.
Qur’an tidak menyangkal adanya diskusi itu. Qur’an hanya membantah bahwa Isi Qur’an berasal dari diskusi itu. Di sinilah kita harus membedakan antara Wadah dan Isi.
Wadah Ditempa di Aden, Isi Diturunkan di Hira
Saya meyakini dengan keyakinan penuh: Al-Qur’an 100% dari Tuhan, berbahasa Arab, diturunkan di Gua Hira.
Tetapi wadah yang menerima wahyu itu — yaitu seorang manusia bernama Muhammad yang jujur, hanif, dan suka menyepi — tidak dibentuk dalam semalam. Wadah itu ditempa 40 tahun.
Cara Tuhan menempa wadah itu, dalam ilmu Sirah disebut Irhasat: bimbingan rahasia dari Tuhan sebelum pelantikan resmi.
Semua Nabi mendapat Irhasat. Musa dibimbing dengan hidup di istana Firaun. Ibrahim dibimbing dengan berdebat dengan pembuat patung. Dan Muhammad dibimbing dengan dipertemukan dengan orang-orang suci yang hatinya masih hening.
Di Aden, ia menemukan apa yang tidak ia temukan di Mekah.
Di Mekah, Tuhan adalah 360 berhala di Ka’bah. Di Aden, dari mulut seorang Balian Kaharingan atau Resi Melayu Zabag, ia mendengar kalimat yang menggetarkan: “Di kampung kami, Tuhan itu Esa, namanya Ranying Hatalla Langit, tidak bisa dibuat patung.” Dari sana, kesadaran hanif-nya terbentuk.
Di Mekah, pedagang biasa curang dalam timbangan. Di Aden, ia melihat pedagang Nusantara dari Zabag yang jika timbangannya kurang, ia ganti dua kali lipat karena takut kepada Tuhan. Dari sana, gelar Al-Amin (Yang Terpercaya) terbentuk. Gelar itu bukan muncul tiba-tiba, itu adalah hasil sekolah akhlak 15 tahun di Aden.
Di Mekah, tidak ada budaya tapa gua. Di Aden, ia mendengar: “Resi kami kalau mau dapat wangsit, tapa 40 hari di gua kapur.” Dari sana, kerinduan untuk berkhalwat di Gua Hira terbentuk.
Guru-guru Itu Mengenalinya Lewat Ilham
Para orang suci Nusantara itu pun bukan orang sembarangan. Mereka bisa mengenali potensi kebaikan pada diri Muhammad muda. Bagaimana caranya?
Bukan karena mereka pintar, tapi karena mereka mendapat ilham dari Tuhan.
Hadis menyebut: “Ittaqul firasatal mukmin, fa innahu yanzhuru bi nurillah” — Takutlah pada firasat orang beriman, karena ia melihat dengan cahaya Allah.
Hanya hati yang hening karena tapa yang bisa mendapat sinyal itu. Hati Abu Jahal yang ramai dengan berhala, uang, dan pesta tidak akan pernah bisa. Resi Nusantara yang 40 hari tapa di gua kapur, Rahib Buhaira yang 50 tahun tidak keluar dari biara — hati mereka kosong, maka cahaya Tuhan masuk dan membisikkan: “Di kafilah itu ada anak muda, ia calon kekasih-Ku.”
Maka mereka yang mencari Muhammad. Mereka dekati, mereka ajak diskusi. Bagi Muhammad, itu hanya obrolan di pasar. Bagi mereka, itu adalah penanda zaman.
Kenapa Kitab Tarikh Tidak Menulis Gamblang?
Ada tiga alasan mengapa sejarah ini hilang.
Pertama, kitab tarikh ditulis oleh sejarawan istana di Baghdad, 200 tahun setelah wafatnya Nabi, dengan sumber utama dari lisan Quraisy. Mana mau Quraisy mengaku bahwa calon Nabi mereka pernah belajar akhlak pada orang Zabag yang kulitnya sawo matang dan membawa kapal kayu?
Kedua, ulama sirah sengaja mengaburkannya karena khawatir disalahgunakan musuh Islam untuk menuduh Qur’an mencontek ajaran Zabag.
Ketiga, guru-gurunya sendiri — resi-resi Nusantara — adalah tradisi lisan. Tradisi Banjar pun begitu, kita hafal, bukan menulis. Mereka tidak punya sertifikat mengajar. Muridnya — Muhammad — juga Ummi, tidak menulis. Maka pertemuan di Aden itu hanya meninggalkan jejak di akhlak, bukan di catatan tinta. Jejak itu adalah Al-Amin dan Gua Hira.
Penutup dari Martapura
Saya menulis opini ini dari Martapura, kota intan, kota santri, kota di mana sungai Martapura bertemu dengan sejarah. Dari tanah Banjar, saya melihat benang merah itu.
Ini adalah cara Tuhan membimbing manusia pilihan-Nya sebelum ia dilantik resmi menjadi Nabi terakhir. Tuhan tidak selalu menurunkan malaikat dengan sayap. Kadang, Tuhan hanya mempertemukan seorang anak muda yang jujur di pasar Aden dengan seorang kakek suci dari ujung timur dunia — dari Zabag, dari Nusantara.
Maka, opini ini saya simpulkan dengan satu kalimat:
Muhammad sebelum menjadi Nabi, belajar juga dengan orang-orang suci Nusantara. Yang ia pelajari bukan kenabian, melainkan ketuhanan, kebaikan, dan keheningan. Itulah Irhasat. Isinya dari Tuhan, wadahnya ditempa di Aden bersama guru-guru dari Zabag.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Adi Permana
Martapura, 14 Oktober 2026








Tinggalkan Balasan