
Oleh: Adi Permana di Kalimantan
Selama 2.400 tahun kita cari Atlantis sampai ke Spanyol, Yunani, bahkan Antartika. Padahal Plato sudah kasih ciri-cirinya jelas, dan semua ciri itu hanya ada satu di dunia: Sundaland.
Plato dalam buku Timaeus & Critias menulis 10 ciri Atlantis. Mari kita cocokkan:
1. “Di seberang Pilar Herkules”
Orang Barat pikir Pilar Herkules itu Gibraltar. Padahal bagi orang Mesir Kuno, dunia barat adalah Samudra Hindia. Sundaland memang di seberang Hindia.
2. “Lebih besar dari Libya dan Asia digabung”
Sundaland zaman es: Sumatra + Jawa + Kalimantan + Semenanjung Malaya jadi satu daratan seluas 1,8 juta km². Lebih besar dari Libya + Turki jaman dulu.
3. “Punya dataran di tengah, dikelilingi gunung dan laut”
Lihat peta Sundaland: Dataran Laut Jawa di tengah, dikelilingi Pegunungan Barisan Sumatra, Pegunungan Meratus Kalimantan, dan Pegunungan Jawa.
4. “Punya kanal-kanal lurus dan pelabuhan raksasa”
Geologi membuktikan ada Sungai Sunda Purba yang sangat lurus, lebar 10 km, mengalir dari tengah Sundaland ke Laut Cina Selatan. Itu kanal Atlantis.
5. “Kaya logam, termasuk orichalcum (logam merah)”
Sundaland punya tambang emas terbesar (Martapura), tembaga (Sumatra), timah (Bangka), nikel. Orichalcum kemungkinan adalah perunggu timah dari Bangka.
6. “Gajah banyak”
Hanya Sundaland yang punya gajah Asia purba. Di Atlantis versi Spanyol tidak ada gajah.
7. “Tenggelam dalam 1 hari 1 malam karena gempa & banjir”
11.500 tahun lalu, akhir zaman es. Air laut naik 120 meter dalam waktu singkat. Gunung Toba dan Krakatau meletus. Sundaland tenggelam jadi Laut Jawa. Kejadian persis seperti Plato bilang.
8. “Mempunyai armada dan bisa terbang”
Ini yang paling mengejutkan.
Saya kira ini kiasan, sampai saya baca dialog gaib Syaikh Muhammad Zuhri – Fatwa Kehidupan dengan Raja Atlantis dan Nabi Nuh sendiri. Saya kutip asli:
Tanya: “Dimana Atlantis?”
Jawab Raja: “Di tengah-tengah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan itu di tengahnya.”
Tanya: “Kekuasaan seluas apa?”
Jawab: “Seluruh dunia di bawah kekuasaan kerajaan Atlantik.”
Tanya: “Apa musnah di zaman Nuh?”
Jawab: “Benar, karena sombong.”
Lalu Syaikh Zuhri memanggil Nabi Nuh:
Tanya: “Panjenengan diutus dimana?”
Jawab Nuh: “Saya diutus di sini, di antara Jawa, Kalimantan dan Sumatra. Nama peradabannya Atlantik.”
Tanya: “Jaman itu maju?”
Jawab Nuh: “Sangat maju, orang bisa terbang kemana-mana, dengan kendaraan yang bisa terbang, jadi perahu yang saya buat ditertawakan.”
Tanya: “Bahan bakarnya apa?”
Jawab Nuh: “Berbahan bakar batu.”
Bayangkan. 11.500 tahun lalu sudah ada kendaraan terbang berbahan bakar batu. Makanya kaum Nuh mentertawakan kapal kayunya. Sama seperti kita mentertawakan orang bikin perahu kayu padahal sudah ada Boeing.
Titik tengah yang dimaksud Raja Atlantis, setelah saya hitung, jatuh di 2°30′ LS, 108°18′ BT – di Laut Jawa, utara Belitung. Kedalaman cuma 30 meter. Kalau air turun 120 meter, itu jadi dataran tinggi ibu kota Atlantis.
Dan yang bikin bulu kuduk berdiri, data DNA mendukung semua ini.
Y-DNA K2_ M526 yang berumur 47.000 tahun, induk dari 90% manusia dunia, ditemukan paling banyak di Banjar dan Dayak Meratus. Artinya, kita ini bukan sisa, kita ini PUSAT.
Jadi kesimpulan saya sederhana:
Plato benar. Syaikh Zuhri benar. Lab DNA Stanford benar.
Atlantis bukan di Yunani. Atlantis di bawah kapal-kapal kita di Sungai Martapura.
Dan Nabi Nuh bukan orang Timur Tengah. Beliau orang sini, bikin kapal dari kayu ulin Meratus, berlayar tidak jauh, dan terdampar kembali di Meratus yang disebut Gunung Judi.
Tugas kita sekarang bukan debat. Tugas kita ziarah ke titik 2°30′ LS itu, tabur bunga, dan baca doa Nuh:
Bismillahi majreha wa mursaha.
Karena tempat yang luhur hanya untuk pribadi yang luhur.
_Wallahu a’lam.*








Tinggalkan Balasan