Berani Alihkan Subsidi BBM ke Rekening Keluarga Pra Sejahtera


Selama puluhan tahun, kita punya tradisi unik di negeri ini: Mensubsidi orang kaya dengan uang orang miskin.

Namanya: Subsidi BBM.
Mekanismenya: Negara jual Solar Rp6.800. Harga aslinya Rp23.000. Selisih Rp16.000 ditombokin APBN.

Siapa yang nikmatin?
Data bilang: 60% solar subsidi habis di truk bongsor, mobil mewah, dan jerigen mafia.
Siapa yang bayar?
Kita semua. Lewat pajak. Lewat utang negara.

Lucunya, tiap harga mau dinaikin, yang teriak paling keras justru yang garasinya 3 mobil. Alasannya: “Kasihan rakyat kecil!”

Akhirnya muncul ide brilian dari netizen: “Program Bantalan Energi”.
Konsepnya simpel: Cabut subsidi barang Rp77,5 Triliun. Kasih langsung Rp300.000/bulan ke 21,5 juta KK miskin.

Anggaran sama. Sasaran beda.
Yang kaya: Silakan isi Rp23.000. Anggap sedekah.
Yang susah: Duitnya masuk duluan, H-1 sebelum harga naik.

Kedengarannya adil, kan?
Tapi di negeri ini, ide adil biasanya kalah sama ide “yang ribut paling keras menang”.

Terus ada ide lain: “Tempel stiker miskin di pintu rumah aja”.
Alasannya biar transparan.
Iya, transparan mempermalukan. Karena di negara ini, miskin = aib yang harus dipajang. Bukan masalah negara yang harus diselesaikan.

Untungnya ide stiker itu “ora dadi”.
Karena harga diri rakyat itu lebih mahal dari harga Solar.

Jadi pertanyaannya sekarang: Kita mau lanjut subsidi Alphard, atau mulai subsidi anak sekolah?
Jawabannya ada di 21,5 juta KK yang selama ini cuma jadi figuran di berita.

Salam, Jurnalis Peduli Bangsa



Tinggalkan komentar