KEMBALIKAN MASJID SEBAGAI MESIN KEMAKMURAN, BUKAN CUMA KUBAH MEWAH

Selama ini kita salah kaprah dalam “memakmurkan masjid”.

Indikatornya cuma satu: megah. Kubahnya paling tinggi. Karpetnya paling tebal. Sound-nya paling mahal.
Tapi coba tengok 200 meter dari pagar masjid. Masih ada anak yang sekolahnya nunggak. Ada ibu yang ngutang ke rentenir. Ada harga beras yang naik tiap minggu.

Masjid kita ramai pas sholat. Tapi bisu saat rakyat lapar.

Padahal Allah sudah kasih contoh 1400 tahun lalu. Di zaman Nabi, masjid itu bukan cuma tempat sujud.
Masjid Nabawi adalah Kantor Baitul Mal, Pusat Ekonomi, Bank 0%, Dapur Umum, dan Parlemen.
Umar bin Khattab memutar zakat dari masjid untuk mengentaskan kemiskinan 1/3 dunia.

Lalu kenapa hari ini fungsinya kita persempit jadi “ibadah vertikal” semata?

SOLUSINYA: REFORMASI LEWAT BAITUL MAL + TOSERBA MASJID

Sudah saatnya para ulama dan pengurus masjid membuat terobosan. Bukan menciptakan yang baru. Tapi mengulang sunnah.

Gimana caranya?

1. Kumpulkan Semua Zakat, Infak, Sedekah dalam 1 Pintu: BAITUL MAL
Jangan lagi numpuk di kas. Buat transparan. Laporkan tiap minggu ke jamaah. Uang umat harus kembali ke umat.

2. Putar Uangnya, Jangan Didiamkan
40% buat Toserba Masjid. Jual sembako HET. Pukul tengkulak.
30% buat KUR 0%. Modalin UMKM, nelayan, pedagang pasar. Bebaskan dari jeratan bank.
20% buat bansos produktif: beasiswa, bedah rumah, modal usaha.
10% buat operasional masjid.

3. Sebar Imbasnya
Hasilnya: Masjidnya makmur karena kasnya muter. Jamaahnya makin banyak karena ngerasa ditolong.
Masyarakat sekitarnya sejahtera karena ada lapangan kerja, harga murah, dan modal usaha.

MASJID BISA MENGALAHKAN BANK. MASJID BISA MENGALAHKAN KORUPTOR.

Bank kasih bunga 12%. Masjid kasih 0%. Rakyat pasti pindah.
Koruptor main di anggaran. Masjid main langsung ke perut rakyat. Kalau rakyat sudah mandiri, bansos politik tidak akan laku lagi.

Ingat pesan ini: Allah lebih senang engkau mengenyangkan perut yang lapar, daripada membangun 100 masjid.

Karena tujuan masjid dibangun adalah untuk memuliakan manusia.
Kalau manusianya masih sengsara, lalu masjid megah itu untuk siapa?

PENUTUP
Mari kita ubah definisi “memakmurkan masjid”.
Bukan lagi “bangunannya rame”. Tapi “ibadahnya rame DAN masyarakatnya sejahtera”.

Sudah saatnya masjid dan mushola di Banjarmasin, di Kalsel, di Indonesia…
kembali jadi jantung peradaban. Tempat ibadah, sekaligus tempat rakyat kecil bersandar.

Bukan meminta kepada negara. Tapi memberi solusi untuk negara.

Wallahu a’lam bishawab.



Tinggalkan komentar