Akarnya dari 1 Kalimat: “Untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”

Bro, kita udah 23 tahun sejak Gus Dur lengser. 25 tahun sejak terakhir ada Presiden pegang kartu NU.
Dan hari ini kita lihat hasilnya:
Tambang di Kalsel, rusak di Kalsel, labanya di Singapura.
UUD Pasal 33 cuma jadi hiasan dinding DPR.
Ini bukan salah batubara. Ini salah manusia.
1. AKAR MASALAHNYA: KITA KEHILANGAN “GUS DURISME”
Gus Dur punya 1 prinsip yang sederhana tapi mematikan:
“Negara ada untuk rakyat. Bukan rakyat untuk negara. Apalagi untuk konglomerat.”
Lihat sekarang:
- Intelektual kita ada – Doktor, profesor, konsultan pajak miliaran. Tapi otaknya buat ngakalin transfer pricing beratus ratus juta USD
- Ulama kita ada – Tapi banyak yang milih diem karena “ada proyek CSR”
- Pemimpin kita ada – Bahkan baru dapat kartu NU. Tapi keberaniannya nanya: “Pak, royalti tambang ke daerah mana?” masih kita tunggu
Pinter semua. Tapi gak ada yang cinta rakyat. Gak ada yang takut dosa sama tanah air.
2. BUKTI KHIANATNYA: PASAL 33 DIPERKOSA
UUD 1945 Pasal 33 ayat 3 jelas:
“Bumi, air, kekayaan alam… dikuasai negara UNTUK SEBESAR-BESAR KEMAKMURAN RAKYAT”
Faktanya:
- Dikuasai siapa? Adaro, keluarga konglomerat, afiliasi di Singapura
- Kemakmuran rakyat mana? Sungai Martapura keruh. Jalan hauling ancur. Anak stunting.
- Under invoicing? Cuma “kurang bayar + denda”. Gak ada yang penjara. Karena malingnya pake jas.
Ini bukan pelanggaran pajak bro. Ini PENGKHIANATAN KONSTITUSI.
3. SOLUSINYA BUKAN ORANG BARU. TAPI NYALI LAMA.
Kita gak butuh teori baru. Kita butuh balik ke Gus Dur.
PR UNTUK 3 PIHAK HARI INI:
- PBNU Gus Kikin
Berani gak fatwakan: “Merampok SDA + merusak lingkungan = HARAM”?
Berani gak audit pengurus NU yang main tambang? Jangan sampai NU jadi “stempel halal” buat perampokan. - Presiden Prabowo – Anggota NU Baru
Kartu NU sudah di tangan. Sekarang buktikan.
Cabut izin tambang yang nakal. Audit transfer pricing. Kembalikan Pasal 33 ke relnya.
Jangan sampai sejarah mencatat: “Presiden NU pertama setelah Gus Dur malah mewarisi perampokan SDA” - KITA RAKYAT BANUA
Stop takut. Stop terima CSR 2 juta terus diem 20 tahun.
Teriak. Kawal. Tagih. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?
PENUTUP
Indonesia tidak kekurangan intelektual.
Indonesia kekurangan orang yang kalau tidur masih mimpiin rakyatnya lapar.
Indonesia kekurangan orang yang kalau lihat sungai mati, dadanya sakit.
Gus Dur sudah kasih contoh 1999-2001. Berani dimusuhi, berani miskin, tapi berani benar.
Pertanyaannya sekarang: Siapa Gus Dur selanjutnya?
Apa kita yang harus jadi?
“Bumi ini titipan Allah. Kalau kita serahkan ke perampok, maka kita juga ikut berdosa.”
#KembalikanPasal33 #NUJagaBanua #GusDurisme








Tinggalkan komentar