,

Karhutla Banjar Capai 981 Kejadian, Api Berulang di Sejumlah Lahan Gambut

MARTAPURA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Banjar terus menjadi perhatian seiring munculnya kembali kebakaran di sejumlah kawasan gambut. Sejak pertengahan Juli hingga awal Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat 981 kejadian dengan total lahan terdampak sekitar 6.200 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengatakan peningkatan kejadian dalam tiga hari terakhir terutama terlihat di sejumlah titik Kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Martapura Barat, dan Kertak Hanyar. Kebakaran bahkan berulang di beberapa lokasi yang sebelumnya telah dilakukan pemadaman. Data tersebut disampaikan Wasis pada Selasa (6/10/2026).

“Kalau kita total dari pertengahan bulan Juli, jumlah kejadian itu 981 kejadian. Untuk total lahan yang terdampak itu sekitar 6.200 hektare terbakar,” ujar.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak terjadi merata di seluruh wilayah. Sejumlah titik seperti kawasan Belitung Baru dan Martapura Kota disebut sudah tidak mengalami kebakaran, sementara beberapa lokasi di kecamatan tertentu justru menunjukkan peningkatan.

Di Kecamatan Gambut dan Sungai Tabuk, salah satu kawasan yang menjadi perhatian berada di Pematang Kilometer 5. Sementara di Martapura Barat, kebakaran terjadi di wilayah Penggalaman. Adapun di Kecamatan Kertak Hanyar, titik kebakaran antara lain berada di kawasan Tembikar dan Desa Simpang Empat.

“Kalau untuk spot tertentu meningkat, tapi di spot yang lain turun. Kita ambil contoh yang di sekitar sini sudah off, Belitung Baru off, kemudian Martapura Kota juga off. Tetapi di beberapa titik konsentrasi seperti Gambut, Sungai Tabuk, Martapura Barat di daerah Penggalaman, kemudian Kertak Hanyar di Tembikar dan Simpang Empat, memang ada peningkatan,” jelasnya.

Menurut Wasis, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran sulit ditangani hingga benar-benar padam. Pemadaman di permukaan belum selalu mampu menghilangkan bara yang masih berada di bagian bawah tanah.

Kondisi itu menyebabkan api dapat kembali muncul ketika kawasan terkena angin dan cuaca panas. Karena itu, sejumlah lokasi yang mengalami kebakaran berulang menjadi perhatian untuk dilakukan penanganan dan mitigasi lebih intensif.

“Karena karakteristik lahan gambut, kita bisa menyampaikan ketika pemadaman di permukaan saja, bawahnya tidak bisa kita padamkan. Sehingga ketika ada angin, panas juga ekstrem, itu bisa berulang, menyala kembali,” terangnya.

Wasis mengatakan, penanganan bara yang berada di dalam lapisan tanah gambut saat ini masih menjadi tantangan. Pembasahan tetap dilakukan untuk mencegah api kembali muncul, tetapi membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Ia menyebut hujan lebat masih menjadi faktor yang paling membantu untuk membasahi bagian dalam lahan gambut.

“Kalau penanganan di bawah yang dalam, kita belum bisa. Itu hujan yang bisa menangani. Pembasahan paling juga dilakukan agar tidak sampai ke bawahnya, itu pun dibutuhkan air yang luar biasa,” katanya.

Sempat turunnya intensitas hujan selama dua hingga tiga hari pada pekan sebelumnya juga berdampak terhadap penurunan kejadian kebakaran. Namun, setelah kondisi kembali panas dan kering, sejumlah titik kembali terbakar.

Di sisi lain, BPBD menghadapi keterbatasan sumber air, personel, dan peralatan ketika beberapa kejadian muncul dalam waktu bersamaan. Dalam kondisi tertentu, jumlah titik kebakaran dalam satu hari dapat mencapai sembilan kejadian sehingga penanganan membutuhkan dukungan lintas sektor.

“Kendalanya pasti ada. Sumber air juga terbatas, personel kita juga terbatas. Pada saat dalam satu hari ada kejadian yang bersamaan, kita juga kewalahan. Akhirnya kita kontak teman-teman Damkar, relawan BPK, TNI, Polri, begitu penanganannya,” ungkap Wasis.

Untuk memperkuat penanganan, BPBD Kabupaten Banjar berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta unsur TNI dan Polri. Dukungan juga diberikan ketika skala kebakaran dinilai cukup masif.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut dilakukan melalui posko gabungan di kawasan Pematang Kilometer 5. Posko itu melibatkan BPBD Kabupaten Banjar, BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, serta TNI dan Polri.

Wasis menegaskan, BPBD belum dapat memastikan penyebab kebakaran di titik-titik tersebut, termasuk apakah kebakaran terjadi karena faktor kesengajaan atau sebab lainnya. Karena itu, pihaknya memilih berfokus pada penanganan agar api dapat tangani secara maksimal.(zr)

Tinggalkan komentar