,

RSUD Ratu Zalecha Laksanakan Aktivasi Implan Koklea bagi Pasien Gangguan Pendengaran

MARTAPURA – RSUD Ratu Zalecha Martapura melaksanakan aktivasi implan koklea bagi pasien dengan gangguan pendengaran berat. Aktivasi ini menjadi bagian dari tahapan penggunaan implan koklea setelah pasien menjalani tindakan operasi. Kegiatan berlangsung di Poliklinik THT-BKL RSUD Ratu Zalecha, Rabu (7/10/2026).

Aktivasi dilakukan setelah perangkat implan ditanam melalui tindakan operasi, sehingga bagian luar perangkat dapat mulai digunakan dan disesuaikan dengan kemampuan pendengaran pasien. Proses tersebut menjadi bagian awal dari tahapan adaptasi pasien terhadap suara yang diterima melalui implan koklea.

Direktur RSUD Ratu Zalecha, Arief Rachman, mengatakan implan koklea merupakan perangkat yang digunakan dalam jangka panjang. Jika pasien membutuhkan implan pada kedua telinga tetapi kemampuan pembiayaan terbatas, tindakan dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari satu telinga terlebih dahulu.

“Untuk satu alat biayanya sekitar Rp200 juta. Kalau dua alat bisa mencapai sekitar Rp500 juta. Saat ini perangkat tersebut belum ditanggung BPJS sehingga masih menjadi pembiayaan pribadi pasien,” ucapnya.

Ia menyebut RSUD Ratu Zalecha telah memiliki tenaga dan fasilitas untuk mendukung layanan tersebut. Pasien yang ditangani juga tidak hanya berasal dari Kabupaten Banjar, tetapi mulai menerima rujukan dari daerah lain, di antaranya Batulicin dan Batola. Ke depan, terdapat pula pasien rujukan yang disebut berasal dari wilayah Kalimantan Tengah dan Tarakan.

Dokter Spesialis THT-KL RSUD Ratu Zalecha, dr. Sri Sofia Wahyuni, menjelaskan gangguan pendengaran berat sejak lahir dapat berdampak besar terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan berbicara anak. Kemampuan mendengar menjadi salah satu dasar bagi anak untuk mengenali suara, memahami kata hingga belajar berkomunikasi.

Ia mengatakan kondisi tersebut perlu dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Pada beberapa pasien, alat bantu dengar atau ABD telah dicoba, tetapi hasilnya belum cukup memberikan kualitas pendengaran yang dibutuhkan sehingga implan koklea menjadi salah satu pilihan penanganan.

“Ketika anak belum pernah mendengar dengan baik, proses aktivasi tidak bisa langsung diberikan dengan suara keras. Suara diberikan secara bertahap, kemudian dilakukan mapping untuk menyesuaikan respons pendengaran anak,” jelasnya.

Menurut Sri Sofia, aktivasi bukanlah tahap akhir. Setelah perangkat mulai digunakan, pasien masih membutuhkan proses adaptasi, terapi wicara dan bahasa, serta latihan secara rutin di rumah. Peran orang tua menjadi penting karena waktu latihan bersama tenaga kesehatan terbatas, sedangkan stimulasi di rumah dilakukan setiap hari.

Gambaran kebutuhan layanan tersebut terlihat pada Muhammad Zein Ramadhan yang kini berusia 6 tahun. Ia lahir prematur sekitar usia kandungan tujuh bulan dan gangguan pendengarannya baru diketahui ketika berusia sekitar tiga tahun. Sebelumnya, Zein telah menggunakan alat bantu dengar, namun hasilnya dinilai belum optimal sehingga kemudian menjalani implan koklea.

Untuk tahap awal, Zein baru menggunakan satu implan karena pertimbangan biaya. Perangkat tersebut diharapkan dapat membantu kemampuan mendengarnya terlebih dahulu, dengan penggunaan setiap hari yang ditargetkan minimal sekitar 10 jam.

“Karena sebelumnya belum pernah mendengar suara, awalnya diberikan suara yang paling kecil dulu. Nanti dinaikkan secara bertahap melalui mapping sampai menyesuaikan pendengarannya,” ujar orang tua Zein.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, H. Yudi Andrea, mengapresiasi layanan tersebut karena membuka akses penanganan gangguan pendengaran bagi masyarakat.

“Kami mengapresiasi RSUD Ratu Zalecha yang telah memberikan layanan kepada masyarakat, khususnya dalam penanganan gangguan pendengaran,” katanya.(zr)

Tinggalkan komentar