, ,

Kita Bukan Peniru, Kita yang Ditiru. Saatnya Klaim Balik Sejarah Sundaland.


Oleh: Adi Permana, S.Sos

Saya tumbuh dengan pelajaran yang sama seperti kalian. Atlantis ada di Yunani. Nuh ada di Irak. Mahabharata dari India. Alexander dari Makedonia. Dan kita? Kita ini pendatang dari Taiwan yang baru belajar bercocok tanam 4.000 tahun lalu.

Lama-lama saya bertanya: Masuk akal kah?

Bagaimana mungkin tanah paling subur di muka bumi, Sundaland, yang luasnya sebesar India, yang sungainya menyatu dari Barito, Kapuas, Musi, dan Chao Phraya menjadi satu raksasa, bagaimana mungkin tanah itu kosong selama puluhan ribu tahun? Di mana tanah subur, di situ manusia berkumpul. Di mana manusia berkumpul lama, di situ peradaban besar lahir. Itu hukum alam.

Teori-teori yang masuk kurikulum itu terlihat kokoh karena dicetak di buku tebal dan dibiayai film dokumenter. Tapi kalau dibongkar, rapuh semua.

Atlantis sumbernya cuma satu: dialog Plato. Sudah 100 tahun Samudera Atlantik di-sonar, tidak ada benua tenggelam. Nuh kapalnya dicari di Gunung Ararat Turki, yang ketemu cuma batu alam. Mahabharata katanya dari padang gersang Kurukshetra, tapi isi ceritanya tentang hutan lebat, senjata sakti, dan pertapaan di hutan. Iskandar Zulkarnain katanya Alexander yang mati mabuk umur 32 tahun, padahal di kitab suci dia adalah hamba saleh yang keliling dunia dan membangun tembok besi.

Semua teori itu punya satu kelemahan yang sama: buktinya lokal, tapi diklaim global.

Sementara kita punya apa? Kita punya benua yang memang benar-benar tenggelam. Sundaland tenggelam 14.000 sampai 7.000 tahun lalu, 120 meter air naik, 2 juta kilometer persegi hilang. Plato bilang Atlantis hilang “dalam satu hari satu malam oleh banjir”. Itu bukan metafora, itu catatan geologi Sundaland.

Kita punya titiknya: Selat Gaspar, 2°30′ Lintang Selatan, antara Bangka dan Belitung. Di situlah dulu dataran tinggi Sundaland. Kalau ada kota besar, di situlah dia, sekarang di bawah 30 meter lumpur dan timah.

Kita punya perangkatnya.

Genetika K2b, P, O yang ada di tubuh Dayak, Banjar, Jawa, usianya 40.000 tahun, jauh lebih tua dari teori Out of Taiwan yang baru 4.000 tahun. Padi, pisang, talas, pertama kali didomestikasi di sini, bukan di sana. Bahasa Austronesia paling beragam justru di Kalimantan.

Dan kita punya watak yang menjelaskan kenapa sejarah kita hilang.

Leluhur Nusantara itu karakternya tiga: bertuhan esa (Kaharingan, Kejawen, semua mengenal satu Pencipta Tertinggi), menjunjung kejujuran, dan budaya bertapa. Orang yang seperti ini tidak akan membangun piramida untuk pamer “akulah raja paling hebat”. Dia tidak akan menulis prasasti “aku telah menaklukkan dunia”. Dia akan melepas, akan narimo, akan ikhlas.

Akibatnya apa? Ketika pelaut Zabag kita sampai di Mesir, mereka cerita soal benua yang tenggelam. Pendeta Mesir catat, Plato tulis ulang, jadilah Atlantis milik Yunani.

Ketika orang Sundaland yang selamat dari banjir besar bawa cerita bahtera di Selat Karimata, orang Eufrat catat di tablet tanah liat, jadilah Nuh milik Mesopotamia.

Ketika epos perang besar keluarga dan pertapaan hutan itu dibawa pedagang kita ke India, ditulis dalam bahasa Sanskerta, lalu dibawa balik ke Jawa lewat wayang, jadilah kita disuruh percaya kita yang meniru India.

Ketika raja Zabag yang menguasai timur dan barat dengan mahkota bertanduk sebagai simbol kekuasaan spiritual itu dicatat di Mekah, orang Arab bilang dia dari Romawi, padahal dia Ajam, orang asing dari Timur, teman diskusi Muhammad, yang mengerti soal esa dan tapa.

Pola nya sama terus: Kita rendah hati, mereka rajin klaim.

Maka tulisan ini bukan untuk mengatakan “teori Martapura paling benar”. Tulisan ini untuk mengatakan: teori-teori di buku pelajaran juga belum final. Mereka juga masih hipotesa yang penuh lubang.

Dan kalau sama-sama masih hipotesa, kenapa kita tidak berani mengajukan hipotesa tandingan dari tanah kita sendiri? Dengan perangkat yang jauh lebih lengkap: benua yang memang tenggelam, tanah yang memang paling subur, gen yang memang paling tua, dan budaya bertuhan esa dan jujur yang masih hidup.

Sudah saatnya ada yang berani menyelam di Selat Gaspar. Sudah saatnya BRIN membuka data batimetri Selat Gaspar 2°30′ LS. Sudah saatnya kita berhenti jadi murid yang minder di tanah kita yang paling subur sedunia.

Kita bukan peniru. Kita yang ditiru. (Adi permana)


Tinggalkan Balasan