
Catatan Kepedulian — oleh Setyo Pamuji
Kita kerap tidak peduli — tidak peka — rasa kemanusiaan kita di mana?
Lihatlah orang cacat keliling menawarkan pijat keliling. Kita kerap acuh. Padahal logikanya — kalau kita perlu pijat — kitalah yang seharusnya mendatangi panti pijat — atau memanggil ke rumah.
Tapi dia — dengan kaki yang tidak sempurna — dengan tubuh yang terbatas — dia yang harus keliling — kepanasan — ditolak — demi mempertahankan harga dirinya agar tidak mengemis. Yang dia jual bukan sekadar pijat — yang dia jual adalah kehormatannya.
Kita lah yang normal yang dituntut untuk lebih peka dan peduli. Kalau untuk jadi manusia saja kita gagal — apalagi untuk mencontoh akhlak Nabi Muhammad. Jauh sekali.
Lihat lagi di grup pertemanan kantor. Ketika ada kabar seorang OB atau cleaning service meninggal — dari belasan anggota grup — berapa persen yang sempat mengirim ucapan innalillahi atau sekadar emoticon tanda peduli?
Tapi giliran atasan ulang tahun — kita berebut paling cepat kirim ucapan — gambar lilin dan bunga — dengan puisi terindah.
Jangan-jangan kita belum jadi manusia yang utuh — karena kepedulian kita hanya sebatas — seseorang itu penting atau tidak penting — atau berkaitan dengan kepentingan kita.
Lihat lagi ketika ada gotong royong di kampung. Mengapa kebanyakan yang hadir bersih-bersih atau bagawi kampung adalah orang-orang yang sudah sepuh? Ke mana yang punya tenaga kuat dan yang lebih muda?
Di mana letak logika kemanusiaan kita membiarkan orang-orang yang seharusnya sudah pensiun — jika dia ASN — masih berpeluh keringat mengangkat sampah, mencabut rumput, mengecor jalan?
Anak muda ke mana? Yang kuat ke mana? Asyik dengan HP? Asyik nongkrong? Atau merasa gotong royong itu bukan urusannya?
Mungkin karena pelajaran adab dan akhlak makin sedikit. Dan moral Pancasila kita sudah tak diajarkan lagi. Di sekolah kita sibuk mengejar nilai — tapi lupa mengejar adab. Di rumah kita sibuk mengejar WiFi — tapi lupa mengajarkan gotong royong. Padahal Pancasila itu bukan hafalan — Pancasila itu gotong royong itu sendiri.
Dan kita kerap menghujat para koruptor di pucuk pimpinan — tapi kita lupa — bahwa kita lah yang memberi mereka jabatan.
Karena pola pikir kita — orang yang memimpin layaknya harus orang berduit — yang bisa kasih amplop serangan fajar — bukan pada standar mesti orang baik — soleh — jujur — meski tak kaya harta.
Sadarkah kita — pimpinan itu cerminan kita sendiri? Kita yang tanam. Ya kalau berbuah koruptor — harusnya bukan menghujat — tapi koreksi cara pandang kita — apakah kita menghargai orang baik — atau menghormati orang kaya.
Di negeri ini kita seperti membiasakan diri menghormat kepada yang punya jabatan atau orang kaya. Jika orang biasa — apalagi bukan pejabat — berpapasan saja kita kadang lupa salam atau sekadar kasih senyum.
Sadarilah — perlakuan dan sikap kita menggambarkan diri kita sebenarnya.
Jadi wajar kalau Nabi tidak hadir sekadar di mimpimu — apalagi Allah sedia membuka hijab-Nya agar kamu kenali. Bagaimana hati yang masih menilai manusia dari harta dan jabatan — bisa mengenal Nabi yang bajunya bertambal — dan Tuhan yang tidak bisa disogok dengan harta?
Sebelum kita memperbaiki bangsa ini — mari kita perbaiki dulu cara kita menjadi manusia.
— Setyo Pamuji








Tinggalkan Balasan