,

MENGENAL TANIPAH: DESA PESISIR DI UJUNG BARAT BANJAR YANG BERTAHAN DI ATAS AIR PASANG


ALUH-ALUH, BANJAR – Jika Martapura dikenal sebagai Kota Santri, dan Aluh-Aluh Besar sebagai pusat kecamatan, maka Tanipah adalah ujungnya. Desa kecil seluas 6,14 kilometer persegi ini berada di garis paling barat Kabupaten Banjar, berbatasan langsung dengan pasang surut Laut Jawa.

Secara administratif, Tanipah tercatat dengan kode wilayah 63.03.01.2002 dan kode pos 70655. Koordinatnya di -3.49472 LS, 114.52979 BT. Bersama 18 desa lain di Kecamatan Aluh-Aluh, Tanipah dihuni sekitar 1.905 jiwa.

Jaraknya hanya 0,9 kilometer dari Labat Muara, 1,8 kilometer dari Simpang Warga, dan 1,9 kilometer dari Bakambat. Namun akses ke sana tidak sedekat di peta. Dari Banjarmasin, warga harus menempuh 35-40 kilometer jalur darat ke Aluh-Aluh Besar, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kelotok menyusuri sungai-sungai kecil yang membelah hutan galam dan bakau.

Hidup dari Air yang Tidak Layak Minum

Tanipah adalah desa gambut pesisir. Artinya, tanahnya rawa, airnya payau, dan hidupnya sangat tergantung pasang surut.

Sebuah penelitian dari Jurusan Kimia FKIP Universitas Lambung Mangkurat tahun 2018 pernah menguji kualitas air sungai Tanipah. Hasilnya, suhu air 28-33,6 derajat celcius, tidak berbau, namun kekeruhannya mencapai 54,8 NTU. Kadar besi 1,71 mg/L, melebihi baku mutu air minum. Kadar oksigen terlarut (DO) 5,9 mg/L, COD 17,03 mg/L, dan BOD 6,70 mg/L.

Kesimpulan peneliti: air sungai Tanipah tergolong air Kelas III. Hanya layak untuk pengairan tanaman, tidak layak diminum langsung. Namun kenyataannya, warga tetap menggunakannya untuk mandi, mencuci, bahkan memasak setelah direbus.

“Kalau kemarau panjang, air jadi asin. Kalau hujan, jadi keruh. Kami sudah biasa,” ujar salah seorang warga yang ditemui di dermaga kelotok.

Nelayan, Petambak, dan Penjaga Bakau

Mata pencaharian utama warga Tanipah adalah nelayan tangkap dan petambak tradisional udang windu dan ikan bandeng. Di musim tertentu, warga juga bertani padi pasang surut jenis lokal Siam.

Di pinggir sungai, terlihat tumpukan kayu bakau yang dijadikan arang, serta kelotok-kelotok kecil yang menjadi angkutan utama antar desa. Hasil laut dijual ke pasar Aluh-Aluh Besar, lalu dibawa ke Banjarmasin.

Potensi desa ini justru ada pada apa yang belum tersentuh: hutan bakau yang masih rapat, jalur susur sungai yang tenang, serta kehidupan masyarakat pesisir Banjar yang berbeda dengan Banjar Kuala di kota.

Jika dikelola, Tanipah bisa menjadi destinasi wisata susur sungai dan edukasi gambut pesisir. Wisatawan bisa melihat langsung bagaimana warga bertahan hidup di atas air, menjaga bakau sebagai benteng abrasi, serta menghadapi krisis air bersih yang sudah terjadi jauh sebelum isu iklim mencuat.

Data Singkat Desa Tanipah:

  • Luas: 6,14 km²
  • Penduduk: 1.905 jiwa
  • Kepadatan: ±310 jiwa/km²
  • Topografi: Gambut pesisir, 0-2 mdpl
  • Desa tetangga: Labat Muara, Simpang Warga, Bakambat, Pemurus
  • Akses: Darat + kelotok dari Aluh-Aluh Besar

Tanipah mungkin kecil di peta. Tapi di sinilah ujung Banjar bertemu laut. Desa yang mengajarkan, hidup tidak harus melawan air, cukup belajar hidup bersama air.


Tinggalkan Balasan