
BANJAR-DAYAK BUKAN MONGOLOID: KENAPA SNP LEBIH VALID DARI STR UNTUK MELACAK SEJARAH, MESKI MAHAL
Selama ini kalau hasil tes DNA keluar haplogroup O, di kolom ras ditulis: Mongoloid Selatan. Banyak orang Banjar protes: masa kita disamakan dengan Mongolia?
Protes itu wajar. Karena istilahnya memang salah kaprah.
1. Banjar-Dayak Bukan Mongoloid, Tapi Sundaland
Istilah Mongoloid adalah istilah antropologi tahun 1940-an yang sudah ditinggalkan dunia. Sekarang dipakai istilah East Eurasian.
Faktanya menurut riset SNP global:
- Haplogroup O lahir sekitar 35.000 tahun lalu bukan di Mongolia, tapi di Sundaland — daratan luas yang sekarang menjadi Kalimantan, Jawa, dan Sumatra.
- Varian O tertua yaitu O-M95* justru paling banyak ditemukan pada Dayak dan Banjar di Kalimantan, bukan pada orang Mongolia.
- Orang Mongolia, Han China, Jepang yang haplogroup O itu membawa varian O-M122 dan O-M134 yang umurnya jauh lebih muda, sekitar 10.000-12.000 tahun.
Artinya secara silsilah, bukan Banjar yang turunan Mongolia. Justru Mongolia yang turunan Sundaland. Leluhur mereka mengungsi ke utara ketika Sundaland tenggelam 12.000 – 8.000 tahun lalu karena naiknya permukaan laut.
Jadi kalau dibilang Banjar-Dayak itu Mongoloid, itu kronologi terbalik. Yang benar: Banjar-Dayak adalah penduduk asli Sundaland, induk dari persebaran O ke Asia Timur.
2. Kenapa STR Sering Bikin Salah Paham?
Riset DNA di Banjar yang ada sekarang, termasuk riset Prof. Iwan Aflanie di ULM, menggunakan metode STR (Short Tandem Repeat).
STR bekerja dengan menghitung berapa kali pengulangan pola DNA, misalnya 10 kali atau 15 kali. Pola ini berubah sangat cepat, setiap 2-3 generasi sudah bisa berubah.
Kelebihannya: murah (Rp 500 ribu per sampel), cepat, dan diakui di pengadilan untuk tes ayah dan forensik. Itulah kenapa lab forensik seperti di FK ULM memakai STR.
Kelemahannya: karena cepat berubah, STR hanya bisa melihat 500 tahun ke belakang. Hasilnya pasti akan menunjukkan percampuran: Banjar mirip Melayu, mirip Jawa, mirip Bugis. Karena memang dalam 500 tahun terakhir Kesultanan Banjar menerima banyak pendatang.
STR tidak bisa menjawab pertanyaan: dari mana asal paling tua orang Banjar?
3. SNP: Mahal, Tapi Jujur Soal Sejarah
SNP (Single Nucleotide Polymorphism) bekerja beda. SNP melihat satu huruf DNA yang salah ketik dan tidak pernah kembali lagi. Mutasi ini terjadi sekali dalam ribuan tahun dan diwariskan selamanya.
Contoh: Mutasi M95 terjadi sekali pada satu orang di Kalimantan 20.000 tahun lalu. Semua keturunannya sampai hari ini membawa tanda itu.
Untuk melihat SNP harus tes Big Y-700 atau Whole Genome Sequencing. Biayanya Rp 6-9 juta per sampel, harus kirim ke Singapura atau Amerika, dan izinnya rumit. Inilah alasan kenapa riset di Indonesia jarang pakai SNP.
Tapi SNP jauh lebih valid untuk sejarah:
- STR = seperti mendengar logat. Hari ini logat Banjar mirip Melayu, tapi tidak tahu logat 10.000 tahun lalu.
- SNP = seperti melihat cap di nisan. Sekali dipahat 20.000 tahun lalu, tidak akan hilang.
Riset Karafet (2001, 2014) dan HUGO Pan-Asian Consortium (2009) yang memakai 500.000 SNP dari 1.900 orang Asia membuktikan: diversitas genetik tertinggi ada di Asia Tenggara, bukan di China Utara. Dalam genetika, diversitas tertinggi = usia tertua. Kesimpulannya: Sundaland adalah sumber, bukan penerima.
Kesimpulan
Jadi, dua hal ini harus dibedakan:
- Kalau pertanyaannya: “Siapa orang Banjar dalam 500 tahun terakhir?” — Jawabannya melting pot, campuran Melayu, Dayak, Bugis, Jawa. STR sudah cukup dan riset Prof. Iwan sudah benar.
- Kalau pertanyaannya: “Siapa nenek moyang paling tua orang Banjar-Dayak?” — Jawabannya bukan Mongoloid dari utara, tapi penduduk asli Sundaland yang melahirkan O. Untuk ini butuh SNP.
Banjar-Dayak bukan Mongoloid. Banjar-Dayak adalah Sundaland itu sendiri.
Dan untuk membuktikannya, kita butuh keberanian untuk tes SNP meski mahal, karena sejarah yang jujur memang tidak pernah murah.
Daftar Pustaka untuk di footer:
- Oppenheimer, S. (1998). Eden in the East.
- Karafet, T. et al. (2001, 2014). Paternal population history of East Asia.
- HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009). Mapping Human Genetic Diversity in Asia.








Tinggalkan Balasan