
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Tahun 2005 adalah tahun yang mengubah sejarah Banua.
Untuk pertama kalinya, rakyat Kalimantan Selatan memilih Gubernurnya sendiri. Bukan lagi ditunjuk. Tapi dicoblos di bilik suara.
Dan nama yang keluar sebagai pemenang adalah H. Rudy Ariffin.
Beliau baru saja menang Pilkada Banjar. Tapi amanah rakyat memanggil lebih luas. Dari Pendopo Martapura, beliau melangkah memimpin seluruh Kalimantan Selatan. 2005 – 2010. Lalu rakyat kembali mempercayainya. 2010 – 2015. Sepuluh tahun penuh pengabdian.
Pemimpin yang Turun ke Bawah
Sepuluh tahun itu, Kalsel belajar tentang kepemimpinan yang berbeda.
Beliau tidak pernah berteriak di forum. Suaranya tidak menggelegar. Pidatonya mengalir datar, apa adanya. Tapi anehnya, setiap kali beliau bicara, ruangan jadi hening. Semua mendengarkan.
Karena orang tahu, yang keluar dari mulut beliau bukan janji. Tapi ketulusan.
Beliau pemimpin yang turun. Tidak menunggu laporan di meja.
Beliau datang ke desa, duduk di berugak, membuka kopiah, dan bertanya dengan logat Banjar yang kental:
“Pian, di sini apa yang paling dikeluhkan? Jalan? Sekolah? Air? Sampaikan haja. InsyaAllah kita usahakan.”
Masyarakat tidak melihat jarak. Karena beliau memang tidak pernah menciptakan jarak.
Akhlak yang Menjadi Wibawa
Beliau dekat dengan ulama. Sering terlihat duduk paling belakang saat majelis. Diam, menyimak, mendoakan.
Beliau dekat dengan pers. Menghormati wartawan sebagai mitra. Tidak pernah sekalipun mempersulit. Bahkan sering bercanda dulu sebelum mulai wawancara. “Sudah makan lah? Jangan cuma menulis, perut dikasih juga”
Dan beliau tidak pernah terlihat marah.
Itu yang paling kami ingat.
Kalau ada staf yang salah, beliau tidak bentak. Tidak gebrak meja.
Paling pipinya saja yang memerah. Diam sejenak. Lalu berkata pelan:
“Pian… lain kali jangan kaya itu nah. Malu kita lawan masyarakat.”
Tertawanya khas. Kalau ketawa, pundaknya ikut bergerak. Tulus. Tidak dibuat-buat.
Dari situ lahir wibawa. Orang segan bukan karena takut, tapi karena hormat dan malu kalau mengecewakan.
Membangun Banua dengan Hati
Di bawah kepemimpinannya, Kalsel banyak berubah.
Jalan penghubung antar kabupaten dibenahi agar ekonomi bergerak.
Rumah sakit ditingkatkan agar rakyat tidak jauh berobat.
Masjid-masjid dimuliakan, termasuk Masjid Al-Karomah Martapura yang jadi kebanggaan kita.
Tapi pembangunan fisik itu, bagi beliau, hanya alat. Tujuannya satu: agar rakyat Banua hidup lebih tenang, lebih beriman, dan lebih sejahtera.
Beliau sering bilang, “Membangun itu mudah. Yang susah itu menjaga hati rakyat.”
Pamit dengan Ditinggalkan Doa
Kini di tahun 2026, kita hanya bisa mengenang.
Amanah itu sudah beliau tunaikan dengan sebaik-baiknya.
Lelahnya, pikirannya, waktunya untuk Kalsel… semoga jadi saksi di hadapan Allah.
Beliau pergi meninggalkan jabatan. Tapi meninggalkan teladan.
Teladan bahwa pemimpin itu pelayan.
Teladan bahwa kuat itu tidak harus keras.
Teladan bahwa Banua ini bisa dipimpin dengan lembut.
Al-Fatihah untuk Bapak Banua
H. Rudy Ariffin
Semoga Allah mengampuni segala khilaf beliau. Melapangkan alam kuburnya. Menerima setiap amal ibadah, setiap jembatan, setiap sekolah, setiap doa yang beliau panjatkan untuk rakyatnya sebagai amal jariyah yang tidak pernah putus. Menempatkan beliau bersama para syuhada, shiddiqin, dan shalihin di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Terima kasih, Bapak, sudah memimpin kami dengan kelembutan.
Terima kasih sudah mengajarkan bahwa wibawa itu tidak butuh bentakan.
Kalsel berduka. Tapi Kalsel berterima kasih.
Selamat jalan, Gubernur kami.
Doa anak Banua akan selalu mengiringi sampai akhir zaman.








Tinggalkan komentar