
BANJARBARU – Aksi Kamisan Banjarbaru kembali digelar untuk ke-42 kalinya pada Kamis, 3 September 2026. Kali ini massa menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang kembali melanda Kalimantan dan menimbulkan korban jiwa.
Dalam siaran pers yang diterima, Aksi Kamisan menyebut dua relawan gugur dalam upaya pemadaman. Mereka adalah Akhmad Rijani dari Tim Serbu Api Kelurahan TSAK Palangka Raya dan Ahmudin atau Itam Ahmad dari Kotawaringin Barat. Selain itu, banyak anak-anak, lansia, dan kelompok rentan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA akibat kabut asap.
“Korban ISPA dimana-mana, relawan gugur, kapan karhutla diselesaikan oleh negara?” demikian bunyi tema aksi kali ini.
Massa menilai karhutla sudah menjadi “isu tahunan” yang seharusnya bisa ditangani lebih sigap oleh pemerintah. Namun hingga kini mitigasi preventif dinilai belum optimal.
Aksi Kamisan juga menyoroti penunjukan sosok pengusaha tambang dan sawit, Haji Isam, oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menangani persoalan karhutla. Massa mempertanyakan kompetensi dan independensi penunjukan tersebut.
Selain itu, absennya Menteri Kehutanan dalam penanganan juga jadi sorotan. “Ada dua kemungkinan. Pertama, Menteri Kehutanan gagal menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Kedua, ada intervensi oligarki dan pejabat sehingga tidak dilibatkan,” tulis pernyataan Aksi Kamisan.
Massa menuntut pemerintah segera menyelesaikan persoalan karhutla, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pejabat terkait, serta memperkuat mitigasi preventif. Mereka menegaskan jika pemerintah tetap abai, maka Presiden beserta jajarannya harus mundur dari jabatan.
Mahasiswa: Boleh Jadi Relawan, Tapi Jangan Lupa Kritis
Koordinator Aksi Kamisan Banjarbaru, Wira Surya Wibawa, menegaskan mahasiswa tidak harus memilih antara turun sebagai relawan atau menjadi kelompok kritis. Menurutnya, keduanya bisa dilakukan beriringan.
“Mahasiswa bisa turun langsung membantu memadamkan karhutla karena ada persoalan kemanusiaan yang harus segera ditangani. Tetapi membantu memadamkan api tidak boleh membuat mahasiswa lupa bertanya: mengapa api terus berulang, siapa yang paling terdampak, dan siapa yang harus bertanggung jawab,” ujar Wira.
Wira menyebut pengalaman di lapangan justru harus menjadi bahan untuk memperkuat kritik, bukan mematikannya. Ia mengingatkan karhutla bukan hanya persoalan teknis pemadaman, tapi juga menyangkut tata kelola lingkungan, pembukaan lahan, perlindungan gambut, penegakan hukum, hingga tanggung jawab korporasi dan negara.
“Kerja sama dengan pemerintah boleh, tetapi ada batasnya. Mahasiswa tidak boleh kehilangan independensi, tidak boleh menjadi alat legitimasi pemerintah,” tegasnya.
Ia menutup dengan ajakan agar mahasiswa tidak hanya memastikan api hari ini padam, tetapi juga memastikan sumber masalah tidak terus menciptakan kebakaran yang sama di tahun-tahun mendatang.
Aksi Kamisan Banjarbaru menutup pernyataannya dengan seruan: “Hidup rakyat Indonesia! Hidup korban! Jangan diam! Lawan! Panjang umur perlawanan!”








Tinggalkan komentar