JAKARTA: MENUNGGU TAKDIR GEMPA YANG TERTUNDA


Oleh: Rakyat Biasa

Jakarta sudah terlalu lama menahan dosa.

Di atas tanahnya, gedung-gedung pencakar langit berlomba meninggi. Di bawahnya, air tanah disedot rakus sampai tanahnya turun 25 cm setiap tahun.
Di istananya, para pemegang amanah pesta anggaran. Di jalanannya, rakyat kecil antri solar sambil menahan lapar.

Kita semua tahu. Jakarta sakit.

Para ahli bilang: Jakarta ada di atas 3 lempeng besar. Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Patahan Jakarta. “Tinggal tunggu waktu” katanya.
Para ulama bilang: “Jika kezhaliman sudah merajalela, jika harta orang kaya berputar di kalangan mereka saja, jika amanah diserahkan kepada yang bukan ahlinya… maka tunggulah azab.”

Mungkin gempa itu belum datang bukan karena Jakarta kuat.
Tapi karena masih ada 1 orang tua yang tahajud.
Masih ada 1 anak yatim yang didoakan.
Masih ada 1 orang yang nolak suap walau gajinya pas-pasan.
Masih ada doa-doa tertunda yang menahan langit.

Allah itu Maha Sabar. Dia tunda azabnya. Kasih waktu buat tobat.

Tapi kesabaran ada batasnya Pak.

Lihat. Banjir tiap tahun. Macet yang bikin umur pendek. Udara yang bikin sesak. Korupsi yang bikin miskin. Subsidi yang dikorup. Hukum yang jual beli.
Semua itu gempa kecil. Teguran kecil. Biar kita sadar sebelum “gempa besar” yang sesungguhnya datang.

Pemindahan IKN bukan kebetulan. Itu rahmat.
Seolah Allah bilang: “Aku pindahkan dulu pusatnya. Biar Jakarta dikuras dosanya pelan-pelan. Biar tidak sekalian hancur.”

Tapi kalau mental “enaknya sendiri” tidak berubah?
Kalau yang kaya makin rakus menzalimi yang kecil?
Kalau masjid sepi tapi diskotik rame?
Maka takdir itu tidak akan tertunda selamanya.

Jakarta tidak butuh 1000 gedung baru.
Jakarta butuh 1000 orang yang takut kepada Allah.
Jakarta tidak butuh proyek triliunan.
Jakarta butuh pemimpin yang nangis kalau lihat rakyatnya susah.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan negeri ini bukan BNPB.
Bukan teknologi.
Tapi istighfar. Zakat yang sampai. Sedekah yang ikhlas. Dan pemimpin yang adil.

Sebelum terlambat, mari kita tobat berjamaah.
Sebelum tanah ini benar-benar bicara.

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat baik”
QS. Hud: 117


Tinggalkan komentar