
Oleh: Murid Kehidupan
Ada satu kisah yang diulang-ulang Al-Qur’an bukan untuk diceritakan, tapi untuk dihidupi.
Kisah Nabi Musa dan Sayyidina Khidir dalam QS Al-Kahfi ayat 60-82.
Tiga kejadian. Tiga pelajaran. Tiga kali Musa protes, tiga kali ia gagal lulus.
Padahal itulah isi kurikulum “Madrasah Kahuripan”.
1. “Kapal Dilubangi” = Pelajaran Untuk JASAD
Khidir melubangi perahu milik orang miskin. Musa kaget dan protes.
Ternyata di balik itu ada raja zalim yang akan merampas semua kapal yang bagus.
Dengan dilubangi, kapalnya jadi jelek. Tidak diambil. Selamat.
Kahuripan juga begitu.
Kadang Allah “melubangi” hidup kita. Rezeki seret. Usaha gagal. Badan sakit.
Sakit memang. Tapi itu cara Allah menyelamatkan jasad kita dari “raja zalim” bernama dunia.
Pelajaran untuk jasad: Belajar melepas. Belajar nrimo kehilangan. Karena semua titipan.
2. “Anak Dibunuh” = Pelajaran Untuk RUH
Khidir membunuh seorang anak kecil. Musa tidak tahan.
Ternyata anak itu kalau besar akan durhaka dan menyusahkan orang tuanya.
Allah akan menggantinya dengan anak yang lebih baik.
Kahuripan juga begitu.
Kadang Allah “membunuh” ego keakuan kita.
Keinginan kita tidak dituruti. Harapan kita dipatahkan. Harga diri kita dijatuhkan.
Sakit memang. Tapi itu cara Allah membersihkan ruh kita.
Karena ruh ini mutlak milik Allah. Selama masih ada “aku”, ruh belum bisa pulang.
Pelajaran untuk ruh: Matikan ego. Biar yang hidup hanya Dia.
3. “Tembok Dibangun Gratis” = Pelajaran Untuk HATI
Khidir membangun tembok di kampung yang pelit, tanpa minta upah sepeserpun. Musa protes lagi.
Ternyata di bawah tembok itu ada harta anak yatim. Kalau tembok roboh sekarang, hartanya akan diambil orang.
Dengan dibangun gratis, hartanya aman sampai anak itu dewasa.
Kahuripan juga begitu.
Kadang Allah menyuruh kita berbuat baik tanpa pamrih.
Nolong orang tidak dibalas. Kerja keras tidak dihargai. Ikhlas yang tidak ada saksinya.
Sakit memang. Tapi itu cara Allah membangun “tembok” di hati kita.
Biar hati kita kuat, bersih, dan tidak berdagang dengan Tuhan.
Pelajaran untuk hati: Ikhlas. Bekerja untuk-Nya saja.
Lalu apa masalah Musa?
Satu: Kebanyakan nanya.
Padahal Khidir sudah bilang di awal: “Jangan engkau tanya aku tentang sesuatu apa pun” QS 18:70
Dan apa masalah kita?
Sama. Kita juga kebanyakan nanya ke Kahuripan:
“Kenapa aku?” “Kenapa sekarang?” “Kenapa harus begini?”
Padahal Kahuripan itu sejatinya Khidir yang sedang mendidik kita.
Tanpa papan tulis. Tanpa absen. Tanpa ijazah.
Ujiannya tiap hari. Gurunya adalah peristiwa.
Jadi untuk apa protes?
Nrimo itu kuncinya: gak banyak nanya.
Karena setiap “dilubangi”, “ditenggelamkan”, “dibangun gratis” pasti ada hikmah yang belum kita lihat.
Tujuan akhirnya cuma satu:
Agar ketika kita pulang ke Hadhrat Tuhan, jasad, ruh, dan hati kita dinyatakan lulus sempurna.
Karena hidup ini bukan untuk dipahami.
Hidup ini untuk dijalani… dengan sabar.
Dan disitulah, tanpa kita sadari, kita sedang berguru kepada Khidir.
Wallahu a’lam bish-shawab.








Tinggalkan komentar