
Oleh: Adi Permana, S.Sos
Selama 81 tahun kita dibohongi kata “pajak”. Katanya pajak itu mulia. Padahal di lapangan, pajak adalah pintu masuknya korupsi, invoice palsu, dan nego di belakang.
Mari kita jujur. Di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, batu bara kalori 5.200 ditulis 3.800. Di Dumai, CPO harga $1.000 ditulis $300. Kenapa bisa lolos? Karena sistemnya pajak. Kalau sistemnya pajak, ada celah untuk tawar-menawar harga. Celah itulah yang bikin negara rugi Rp 510 Triliun tiap tahun.
Saya usulkan: Haramkan pajak SDA. Ganti dengan bagi hasil bersih yang jujur di timbangan.
Rumusnya sederhana, anak SD pun paham:
1. Untuk yang tidak bisa diperbarui, yang kalau habis tidak tumbuh lagi — batu bara, nikel, emas, gas: 55% negara, 45% pengusaha.
Kenapa 55%? Karena itu titipan anak cucu. Kita tidak boleh jual murah. Seperti Norwegia, 55% itu masuk Dana Abadi, bukan untuk bansos habis tahun ini.
2. Untuk yang bisa diperbarui, yang kalau dijaga tumbuh lagi — sawit, karet, ikan, rumput laut: 40% negara, 60% rakyat.
Kenapa 60% untuk rakyat? Karena yang jaga kebun itu rakyat, bukan negara. Negara tugasnya cuma jaga timbangan dan jalan kebun.
Dan kuncinya: TANPA PAJAK. Tanpa PPh, tanpa PPN, tanpa royalti yang ribet. Cukup satu kali bagi di timbangan yang dijaga bersama — pengusaha, negara, ulama, dan mahasiswa live 24 jam di YouTube. Timbangan jujur, selesai.
Dengan rumus ini, hitungan saya kasar: negara dapat tambahan Rp 510 Triliun per tahun tanpa naikin pajak, tanpa ngutang baru. Dalam 8 tahun, Indonesia maju 2039, bukan 2047. Dalam 10 tahun, rasio utang turun dari 39% jadi 22%.
Orang Jakarta tanya: ini sosialis? Tidak. Ini Islam. Dalam Islam, barang tambang yang melimpah itu milik bersama, bukan milik pengusaha yang punya izin kertas. Pengusaha yang jujur tetap kaya dengan 45% nya, tapi yang curang tidak bisa lagi main invoice.
Orang pengusaha jujur tanya: ini merugikan kami? Justru menguntungkan. Kalian tidak perlu lagi sogok pemeriksa pajak. Tidak perlu takut aturan ganti tiap tahun. Bagi 45% di timbangan, tidur nyenyak, kaya dengan tenang.
Sudah waktunya kita berhenti memungut pajak dari kekayaan Allah. Kita bagi hasil saja dengan jujur.
Timbangan adalah masjid kita yang baru.








Tinggalkan komentar