Waspada! Sejarah Indonesia Sedang Dikaburkan — Dari Diponegoro Sampai Makam Datu Meratus


Oleh: Adi Permana

Fenomena klaim Diponegoro sebagai Habib bukan sekadar salah silsilah. Ini pola sistematis pembajakan sejarah yang sudah masuk sampai ke makam-makam di Meratus.

Beberapa minggu terakhir, ruang publik diramaikan fenomena yang tidak bisa dianggap sepele: silsilah Pangeran Diponegoro diklaim sebagai Habib Ba’alawi bermarga Assegaf, Bin Yahya, dan Ba’abud. Ada yang bahkan bilang Diponegoro ada 12 orang, yang asli Habib, yang ditangkap Belanda di Magelang itu palsu, dan makamnya di Makassar bukan yang asli. Ketika ditanya mana buktinya, jawabannya: “belum saatnya dibuka”.

Lucunya, klaim yang sama tidak hanya menimpa Diponegoro. Makam-makam kuno di Jawa, Sumatera, dan di tanah kita sendiri di Meratus, yang dulu dikenal sebagai Makam Datu — tiba-tiba dalam 10 tahun terakhir berganti plang menjadi Makam Habib Fulan Al-… Ini bukan lagi salah paham sejarah. Ini serius. Ini upaya pengkaburan sejarah Indonesia.

1. Diponegoro Adalah Jawa, Bukan Ba’alawi

Sumber primer paling sahih bukanlah ceramah, tapi Babad Diponegoro — naskah otobiografi 1.136 halaman yang ditulis Diponegoro sendiri di pengasingan Manado 1831-1832, kini disimpan di Perpustakaan Nasional dan diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Di situ jelas:

Diponegoro lahir sebagai Raden Mas Mustahar, putra sulung Sultan Hamengkubuwono III, cucu Hamengkubuwono I pendiri Yogyakarta, buyut Panembahan Senopati pendiri Mataram Islam, dan terus bersambung ke Bondan Kejawan putra Prabu Brawijaya V Majapahit. Ibunya R.A. Mangkarawati, perempuan Jawa. Tidak ada satu baris pun menyebut marga Assegaf atau Ba’abud.

Peter Carey, sejarawan Oxford yang 30 tahun meneliti Diponegoro, menegaskan: Diponegoro adalah Jawa tulen. Garisnya Mataram, bukan Hadhramaut.

Lalu dari mana klaim Habib muncul? Dari kedekatan Diponegoro dengan Sayid Ibrahim Ba’abud — ulama dari Hijaz — bukan Yaman — yang menjadi panglima kavaleri kepercayaan dan besan Diponegoro. Besan adalah keluarga secara sosial, tapi tidak mengubah darah. Dan Sayyid Hijaz yang di Kampung Sayyidan Yogyakarta itu sudah ada sejak 1700-an, ikut Perang Jawa. Sementara kaum Ba’alawi Hadhramaut yang memakai gelar Habib baru datang massal 1838, tiga tahun setelah Perang Jawa selesai, difasilitasi Belanda sebagai penyeimbang.

2. Nasab Yang Dipakai Untuk Membajak Pun Bermasalah

Filolog Prof. Menachem Ali dan peneliti nasab KH Imaduddin Utsman Al-Bantani menunjukkan, nasab Ba’alawi dari Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir terputus 550 tahun. Tidak ada kitab nasab abad 4 sampai 8 Hijriah yang mencatat Ubaidillah sebagai anak Ahmad Al-Muhajir. Namanya baru muncul abad 9 Hijriah dalam kitab internal keluarga.

Ditambah tes Y-DNA. Orang Jawa seperti keturunan Mataram-Majapahit umumnya membawa Haplogroup O-M175 — yang dominan di Austronesia. Sementara Ba’alawi Hadhramaut yang sudah dites membawa J1-FGC30416 — yang dominan di Yaman. Dua jalur ini beda 20.000 tahun. Kalau keturunan asli Diponegoro di Yogyakarta dites, pasti O, bukan J1.

3. Pola Yang Sama: Dari Shuruppak Sampai Meratus

Fenomena ini diakui media Islam moderat sendiri. http://Islami.co menulis: “Kami sering menemukan sejarah dan makam-makam pendahulu peradaban Nusantara yang diklaim sebagai habib bermarga tertentu. Anehnya klaim itu sering tidak seragam. Ketika ditanya dasarnya apa, jawabannya: belum saatnya dibuka.”

Ini pola lama. Makam keramat adalah sumber ekonomi: ada kotak amal, ada haul, ada proposal. Makam yang tidak ada juru kunci, tiba-tiba ada yang pasang plang baru, jadi sakral.

Di Irak, pola yang sama terjadi 4000 tahun lalu. Daftar Raja Sumeria yang bilang “setelah banjir, kerajaan turun dari langit di Kish” ditulis oleh Raja Kish sendiri untuk melegitimasi kekuasaannya — sama seperti sekarang. Kita sudah bahas ini di artikel sebelumnya “Teori Banjir Nuh di Irak Ternyata Lemah — 4 Alasan Kenapa Shuruppak Gugur”. Prasasti propaganda dipakai sebagai bukti sejarah.

Kalau di Jawa nisan asli Walisongo tulisan Jawa Kuno diganti marmer baru tulisan Arab, di Banjar pun sama. Banyak Makam Datu di Gunung Hauk Meratus yang dulu dijaga Dayak dan Banjar, sekarang plangnya ganti. Kalau nisan asli hilang, kita kehilangan Carbon Dating, kehilangan tulisan, kehilangan Y-DNA. Sejarah hilang selamanya.

4. Yang Terancam Bukan Nama, Tapi Status Kita Sebagai Pemilik Tanah

Yang paling berbahaya adalah pengkaburan asal-usul bangsa. Sejarah resmi diajarkan: bangsa Indonesia pendatang dari Yunnan, dari Dong Son, dari India, dari Arab. Padahal data genetika dan geologi terbaru menunjukkan sebaliknya: Sundaland — daratan yang kini jadi Laut Jawa, Selat Karimata — adalah pusat penyebaran. Haplogroup K lahir di sini 45.000 tahun lalu, bapak dari 80% lelaki dunia. Banjir Sundaland 12.000 tahun lalu menenggelamkan 2 juta km2 daratan seluas Eropa, ketika laut naik 120 meter.

Kalau semua pahlawan ditempel ke luar, semua makam ditempel ke luar, dan asal-usul bangsa ditempel ke luar, maka 50 tahun lagi anak cucu kita akan percaya bahwa kita bukan pemilik sah Nusantara — kita hanya pendatang yang numpang.

Itulah yang dilawan Diponegoro di Goa Selarong: bukan sekadar pajak Belanda, tapi penghapusan adat Jawa diganti budaya asing.

Apa Yang Harus Kita Lakukan Dari Martapura?

Tiga hal: Tulis dengan data, bukan dengan makian. Dokumentasikan makam asli sebelum hilang — foto nisan asli Datu Banjar di Meratus, simpan di http://aptour.net. Dorong tes Y-DNA untuk keluarga asli — karena kalau silsilah bisa dikarang, Y-DNA tidak bisa.

Sejarah Indonesia sedang dikaburkan. Ini serius. Dan kalau bukan kita dari Sundaland yang menjaganya, siapa lagi?

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Carey, Peter. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Jakarta: Kompas, 2014.
  2. Babad Diponegoro — Naskah Manado 1831-1832 — Perpustakaan Nasional RI — UNESCO Memory of the World.
  3. http://Islamiy.com — “Pangeran Diponegoro Diklaim Keturunan Habib Baalwi”.
  4. http://Islami.co — “Menakar Klaim Habib atas Pangeran Diponegoro dan Tokoh Sejarah Lainnya”.
  5. http://Walisongobangkit.com — “Kampung Sayyidan Dalam Sejarah Perang Diponegoro”.
  6. De Jonge, Huub. Dutch Colonial and Hadhrami.
  7. Ali, Menachem & Imaduddin Utsman Al-Bantani — Tesis keterputusan nasab Ubaidillah.
  8. Karafet et al. 2014 — Y-DNA phylogeny.
  9. Oppenheimer, Stephen. Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia. 1998.
  10. Woolley, Leonard. Excavations at Tell Fara (Shuruppak), 1929.

Tinggalkan Balasan