“Republik WPN Karang Intan: Negeri yang Diawasi Tapi Nggak Dilihat”

Di suatu kerajaan bernama WPN, hiduplah tambang ilegal yang paling disiplin sedunia. Ekskavatornya kuning mengkilat, kerja jam 8 pagi kayak PNS, istirahat zuhur, lanjut sampai asar. Truknya antri rapi di pinggir jalan Lihum–Bi’ih, platnya ditutup daun pisang biar local wisdom.

Warga: “Rusak banget sanak ae. Sungai keruh, kebun karet tinggal kenangan, jalan kayak bubur.”
Pak Kades mengangguk khidmat sambil ngopi: “Benar. Kerusakannya cukup parah. Kita sangat prihatin.”
Prihatin Level Dewa. Disampaikan tiap rapat, direkam notulen, lalu diarsipkan. Aksi? Nanti dulu. Kopi masih panas.

Di Banjarbaru ada Inspektur Tambang.
Jabatannya keren: pengawas. Senjatanya lengkap: aturan, pena, stempel segel. Tapi tiap lewat Karang Intan beliau kena penyakit aneh namanya “Rabun Selektif Akut”. Ekskavator 20 ton kelihatan kayak sepeda ontel. Alasannya klasik: “Kami kekurangan personel.” Padahal eksavator di lapangan cuma 5, inspektur se-Kalsel ada 20. Satu orang ngawasin seperempat eksavator pun ngos-ngosan. Mungkin eksavatornya lari-lari.

Di Martapura ada Polres.
Unit Tipidter-nya gagah. Punya borgol, punya mobil, punya kewenangan. Tiap ada laporan, langsung gercep… gerak cepat ke warkop. “Loh, alat beratnya tadi di sini?” Iya Pak, alatnya pinter. Begitu dengar suara sirine, langsung berubah jadi semak belukar. Ilmu menghilang level dukun.

Cukong?
Sosok paling Pancasilais. Sila ke-5: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Kroninya. Beliau buka lapangan kerja, kasih “uang debu” ke desa, “uang rokok” ke portal, “uang bensin” ke… eh, nanti dulu.

Karena di republik ini, LSM juga hidup rukun.
Ada dua aliran:

1. LSM Hijrah.
Dulu galak. Koar-koar “Selamatkan Meratus!”. Bikin rilis, demo, foto di lubang tambang. Sebulan kemudian insaf. Dapat hidayah dalam bentuk “tali asih”. Sekarang kegiatannya mulia: Workshop Menjaga Lisan, Agar Tidak Menyakiti Perasaan Penambang. Spanduknya baru.

2. LSM Karbitan.
Lahir tadi pagi, sorenya udah punya SK. Kantornya ruko kontrakan, isinya meja, stempel, dan semangat 45. Tugasnya patroli. Bukan patroli lingkungan, tapi patroli “siapa yang belum bayar”. Jurus andalannya: “Kami dari LSM Peduli Banua. Ini ilegal lho Pak. Tapi tenang, bisa kita kondisikan.”
Tarif kondisinya fleksibel: per rit, per hari, atau paket bulanan. Kuitansi? “Tenang, ini amal.”

Kata warga: “Dulu kalau ada masalah, larinya ke LSM. Sekarang kalau ada LSM, kami yang lari.”

Maka, panduan sumpah serapah edisi lengkap:

  1. Inspektur Tambang: “Semoga pian diberi penglihatan 8K Ultra HD, biar ekskavator nggak dikira batu akik.”
  2. Pak Polisi: “Semoga Google Maps pian nggak cuma nyantol di warkop, sesekali nyantol ke lokasi tambang.”
  3. Pak Kades: “Semoga kata ‘prihatin’ pian jadi amal jariyah. Soalnya cuma itu yang pian laksanakan.”
  4. Cukong: “Semoga batubara pian berkah… buat bahan bakar di akhirat.”
  5. LSM: “Semoga ‘Swadaya Masyarakat’-nya beneran dari masyarakat, bukan dari ‘Saweran Dagang’. Dan semoga plang kantor nggak lepas kena angin kebenaran.”

Epilog:
Di WPN Karang Intan, ekosistem berjalan sempurna. Penambang nambang. Aparat mengawasi… dari jauh. Kades prihatin. LSM menengahi. Cukong berderma.
Ini gotong royong paling sukses: gotong royong ngerusak alam.

Lubang makin dalam. Dompet oknum makin tebal. Sungai makin dangkal. Akal sehat kita yang tenggelam duluan.

Sekian siaran langsung dari Republik WPN.
Mohon maaf kalau ada yang tersinggung. Kalau nggak tersinggung, ada dua kemungkinan: pian orang jujur, atau nama pian belum kesebut.

Disclaimer: Tulisan ini fiksi. Kalau mirip sama kenyataan, berarti beritanya kurang fiksi.

Tinggalkan komentar