
BANJARBARU – Koalisi Extinction Rebellion (XR) Meratus, XR Palangkaraya, dan XR Banjarmasin membentangkan spanduk bertuliskan “BELUM MERDEKA DARI KRISIS IKLIM & KABUT ASAP” pada 17 Agustus 2026. Aksi ini dilakukan bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 RI.
Koordinator Lapangan Aksi Bersama, Wira Surya Wibawa, menyebut pesan tersebut sebagai pengingat bahwa kemerdekaan belum bermakna jika masyarakat masih menghirup udara tercemar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kalimantan Kembali Diselimuti Asap
Data BPBD Kalsel hingga 20 Agustus 2026 mencatat 1.651 kejadian karhutla, 8.764 hotspot, dan sekitar 6.905 hektare lahan terbakar. Kota Banjarbaru jadi wilayah terdampak terberat dengan 342 kejadian dan 1.140 hektare lahan terdampak.
BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WITA mencapai 389,4 mikrogram/m³ atau masuk kategori “Berbahaya”. Jarak pandang di Bandara Syamsudin Noor bahkan sempat turun hingga 30-50 meter hingga mengganggu penerbangan.
Dampak Kesehatan
Dinkes Kalsel mencatat 7.975 kasus ISPA hingga Juli 2026. Secara nasional, Kemenkes menyebut kasus ISPA pada minggu ke-27 hingga ke-31 2026 tembus lebih dari 400 ribu kasus per minggu.
“Di balik angka itu ada anak-anak, lansia, pekerja, dan relawan yang tetap harus hidup di tengah kabut asap,” kata Wira.
10 Tuntutan XR
XR menilai krisis ini bukan hanya karena kemarau dan El Niño, tetapi juga akibat pengelolaan ruang hidup yang salah. Karena itu XR menyampaikan 10 tuntutan, di antaranya:
- Menetapkan karhutla dan kabut asap sebagai krisis kesehatan dan ekologis
- Membuka data karhutla dan kualitas udara secara transparan dan real-time
- Memperkuat pencegahan dari tingkat tapak seperti patroli dan pembasahan gambut
- Mengusut tuntas aktor karhutla, termasuk korporasi dan konsesi besar
- Melindungi masyarakat dan pembela lingkungan
- Mengevaluasi izin dan proyek yang memperparah deforestasi
- Memulihkan hutan dan gambut secara berbasis ekosistem
- Membangun sistem perlindungan kesehatan seperti masker dan ruang udara bersih
- Melibatkan masyarakat sebagai subjek dalam penanggulangan krisis iklim
- Membangun solidaritas iklim lintas Kalimantan
“Kemerdekaan tanpa udara bersih bukan kemerdekaan yang utuh. Kalimantan bukan tumbal pembangunan. Udara bersih adalah hak semua orang,” tegas Wira.
Aksi ini ditutup dengan seruan #SaveKalimantan #BelumMerdeka #PulihkanKalimantan.








Tinggalkan komentar