Zuriat Kesultanan Banjar Bulatkan Tekad Luruskan Sejarah, Bentuk Lembaga Nasab

MARTAPURA – Gelombang kesadaran untuk melestarikan marwah Kesultanan Banjar menguat. Para zuriat atau keturunan langsung Sultan Banjar lebih dari 120 orang menyatakan komitmen bersama menjaga warisan leluhur sekaligus meluruskan sejarah yang selama ini dinilai menyimpang akibat narasi kolonial.

Tekad itu tertuang dalam pernyataan resmi di Martapura, 23 Mei 2026, di Guest House Sultan Sulaiman yang dirumuskan bersama kemudian disusun poin-poinnya oleh H. Rusniansyah Marlim, S.H., CMLC, salah satu zuriat Sultan Sulaiman Rahmatullah.

“Tiada Datu Kadada Kita” Jadi Semboyan Pemersatu

H. Rusniansyah Marlim menegaskan, gerakan ini berpijak pada dua motto utama: Tiada Datu Kadada Kita dan Mendekatkan keluarga nan jauh dan mengakrabkan keluarga yang dekat.

“Ini bukan sekadar nostalgia. Ini soal identitas. Kalau kita tidak kenal leluhur, kita kehilangan arah. Tiada Datu Kadada Kita — tanpa jasa para datu, kita tidak ada,” tegas H. Rusniansyah Marlim, S.H., CMLC saat dihubungi, Sabtu 23/5/2026.

Ia menambahkan, ada 8 upaya konkret yang akan dijalankan. Mulai dari pembinaan maqam, pendataan silsilah lewat Lembaga Nasab, hingga pemutakhiran sejarah Kesultanan Banjar. “Terutama soal status keislaman Pangeran Samudra atau Sultan Suriansyah dan sejarah menyerahnya Sultan Hidayatullah II. Banyak versi kolonial yang harus kita luruskan dengan sumber primer,” jelasnya.

Gusti Syakhrin: Saatnya Zuriat Bersatu, Jangan Jalan Sendiri

Seruan rekonsiliasi juga datang dari tokoh zuriat lainnya, Gusti Syakhrin. Menurutnya, sudah saatnya seluruh kerukunan dan perkumpulan zuriat duduk satu meja.

“Kita ini satu darah, satu datu. Tidak boleh lagi ada sekat. Motto kita jelas, menggalang dan memupuk kebersamaan sesama zuriat sedatu,” ujar Gusti Syakhrin.

Ia mendukung penuh rencana pembentukan sekretariat bersama dan penguatan medsos sebagai wadah komunikasi. “Zuriat yang di rantau biar dekat, yang dekat biar makin akrab. Lewat manakib saat haulan sultan juga bisa jadi sarana kumpul. Ini bagian dari mengenal, menghormati, dan melanjutkan keteladanan Pedatuan,” tambahnya.

Gusti Syakhrin juga menyoroti pentingnya meneladani nilai Kesultanan Banjar: kesatuan umaro, ulama, dan rakyat, serta keberpihakan pada keadilan dan kesejahteraan umat. “Itu warisan yang harus hidup, bukan cuma jadi cerita,” tutupnya.

Langkah Nyata: Dari Silsilah hingga Haulan

Dalam dokumen tersebut, para zuriat merinci program aksi. Selain rekonsiliasi dan medsos, fokus utama adalah:

  1. Pembentukan Lembaga Nasab untuk pendataan, penyusunan, dan verifikasi silsilah seluruh zuriat Kesultanan Banjar.
  2. Pembinaan maqam leluhur sebagai pusat pemersatu.
  3. Penyusunan manakib resmi yang dibacakan setiap haulan sultan.

H. Rusniansyah Marlim menutup, “Tujuannya satu: memberi kesadaran dan kebanggaan sebagai anak cucu Sultan Banjar. Sejarah kita, marwah kita, kita sendiri yang jaga.”


Tinggalkan komentar