
Oleh: Adi Permana
Selamat kepada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.
Selama dua dekade atau 20 tahun berturut-turut, sejak 2005, Kejati Kalsel berhasil mempertahankan prestasi gemilang: tidak pernah sekalipun menyentuh Dinas PUPR Provinsi.
Ini bukan prestasi sembarang. Ini prestasi yang butuh latihan, butuh komitmen, butuh… entahlah, butuh apa.
Coba bandingkan.
PUPR Kabupaten HST bisa tersentuh.
ESDM bisa tersentuh.
PT Bangun Banua bisa tersentuh.
Bahkan Perjadin DPRD juga pernah “disapa” walau ujungnya mangkrak.
Tapi PUPR Provinsi? Aduh, itu mah zona steril. Zona anti bakteri. Zona yang kalau didekati, bisa-bisa batuk.
Padahal kantor Kejati di Banjarbaru. Kantor PUPR juga di Banjarbaru.
Jaraknya mungkin cuma selempar batu. Atau selempar amplop.
Tiap hari lewat. Tiap hari lihat proyek jalan, jembatan, gedung miliaran.
Tapi hidungnya kalah tajam sama hidung KPK yang datang dari Jakarta.
Buktinya? 8 Oktober 2024.
KPK datang, nginep 2 malam, langsung OTT. 12,4 miliar gratifikasi.
Mantan Kadis PUPR jadi tersangka. Proyek 14M, 19M, 23M dibedah di pengadilan.
Sementara Kejati? Sibuk mengeluarkan press release: “Kami mengapresiasi kinerja KPK.”
Luar biasa. Apresiasi itu gratis. Nggak perlu penyidik, nggak perlu berkas, nggak perlu risiko.
Dulu saya pernah nulis di Mata Banua soal “dana rutin”. Katanya fitnah. Katanya mengada-ada.
Sekarang KPK yang nulis, tapi pakai borgol dan surat dakwaan.
Jadi wajar kalau warga bertanya: Selama 20 tahun itu Kejati ngapain aja?
Rapat? Bimtek? Atau lomba merem paling lama?
Kami paham. Mungkin PUPR Provinsi itu terlalu suci untuk disentuh.
Mungkin proyeknya semua berkah.
Mungkin kerugian negara di sana pakai ilmu menghilang.
Tapi Pak Jaksa, warga Kalsel ini polos. Kami cuma bisa ngitung: 20 tahun x triliunan APBD = banyak.
Maka dengan ini kami usulkan:
Bikin cabang lomba baru di Kejati. Namanya “Lomba Buka Mata”.
Hadiahnya kepercayaan publik.
Kalau tidak, khawatir nanti pas ada OTT jilid 2, jilid 3, Kejati cuma kebagian jadi penonton VIP.
Karena jujur, capek juga liat KPK kerja lembur. Kasihan.
Biar adil, gantian dong.
Banjarbaru, 22 Juli 2026








Tinggalkan komentar