
BANJARMASIN – “Saya mau berutang kepada Tuhan, agar rasa takut saya hanya kepada-Nya. Bukan kepada yang lain,” ucap Robert Hendra Sulu, S.H., melalui sambungan telepon kepada salah satu media, Senin (25/5/2026).
Terungkap, kisah perjuangan Robert saat mencari bukti demi membela Faisal yang menggugat pelanggaran hak cipta atas pemuatan tujuh foto dalam buku Amuk Banjarmasin.
“Saya bukan pengacara tersohor. Saya nggak punya tim. Nggak ada kantor mewah, nggak ada sponsor atau institusi di belakang saya,” ujarnya sambil menghela napas panjang. “Tapi saya punya satu keyakinan mantap untuk membela yang benar.”
Ia melanjutkan, “Waktu itu saya tinggalkan Banjarmasin, naik pesawat menuju Jakarta. Seorang diri. Hanya membawa satu tas kecil. Itu saja modal saya.”
Jakarta tahun 1998 sedang mencekam. Atmosfernya pekat.
“Orang-orang saling curiga. Kita tidak tahu siapa kawan, siapa lawan. Karena hal itulah saya sangat waspada. Suasana benar-benar mencekam,” kenangnya.
Robert menginap di salah satu hotel di Jakarta. Tanpa banyak kenalan dan belum terbiasa dengan kota besar, ia memilih berjalan sendiri.
“Waktu itu saya tanya seseorang, katanya kalau naik taksi susah ditemui. Akhirnya saya naik bajaj. Menuju Jalan Diponegoro, lokasi Kantor YLBHI di Jakarta Pusat.”
Saat tiba di kantor YLBHI, sebuah bangunan tua berwarna putih, ia berjalan masuk ke halaman. Dari kejauhan ia melihat seorang pria sedang bermain pingpong.
“Ya, itu Munir. Saya langsung mengenal wajahnya. Ia terlihat tenang, memainkan bola pingpong seolah tak ada yang genting.”
Saat itu Robert tidak berkata apa-apa. Tidak menjelaskan maksud kedatangan. Ia hanya masuk, melihat-lihat rak dan lemari di sudut ruangan.
“Di lemari itu, saya lihat buku Amuk Banjarmasin. Bertumpuk banyak. Judulnya sama. Isinya—saya tahu betul—memuat tujuh foto milik Faisal.”
Ia tidak berbicara dan tidak menyentuh apapun. Setelah yakin dengan yang dilihat, ia melangkah keluar pelan-pelan.
“Itu sudah cukup bagi saya. Saya tidak perlu tanya apa-apa lagi. Sesudah keluar dari Kantor YLBHI itu, diam-diam saya pergi meninggalkan tempat tersebut.”
Pencarian tidak berhenti di situ. Robert melanjutkan perjalanan ke salah satu toko buku di Jakarta.
“Saya ingin pastikan buku itu memang diperjualbelikan. Saya masuk ke salah satu toko buku yang cukup terkenal, dan benar. Buku Amuk Banjarmasin ada di rak. Dijual.”
Tiga hari ia habiskan di Jakarta. Kota yang gaduh dan belum sepenuhnya pulih dari trauma politik.
“Waktu saya mau pulang ke hotel, jalanan sudah penuh. Orang-orang berkumpul. Tapi tidak ada rasa takut terhadap aparat. Justru ketegangan muncul dari saling curiga.”
Setelah yakin dengan dua titik penting itu—kantor penerbit dan toko penjual—Robert meninggalkan Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Ia naik kereta menuju Stasiun Pasar Turi.
Sesampai di Surabaya, “Saya masuk ke salah satu toko buku. Buku itu ada. Tidak bisa dibeli, tapi dipajang.”
Itu membuktikan buku Amuk Banjarmasin memang beredar luas di kota-kota besar. Termasuk di Banjarmasin, tempat Faisal pertama kali menerima buku itu dari seorang teman saat menghadiri pertemuan di Masjid Al-Jihad, Desember 1997.
“Di tengah situasi penuh ketidakpastian, saya hanya berpegang pada nilai keadilan,” katanya mengakhiri percakapan. (Irwan/junaidi)








Tinggalkan komentar