Mei di Banua: Jalanan yang Mengingat, Rakyat yang Bertanya, dan Kalsel di Persimpangan


Banjarbaru, 30 Mei 2026
Oleh: Wira Surya Wibawa, SH, MH
Koordinator Social Justice Institute Kalimantan

MEI punya cara sendiri untuk memaksa kita berhenti. Menoleh ke belakang, menatap jejak sejarah. Sekaligus menengadah ke depan, membayangkan masa depan yang ingin kita bangun bersama.

Sebab di bulan ini, momentum besar bertemu dalam satu napas: Hari Buruh 1 Mei, Hardiknas 2 Mei, Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, Hari Reformasi 21 Mei. Ditambah hari-hari lingkungan, budaya, dan sosial yang jadi cermin Banua.

Sepanjang Mei, Kalimantan Selatan seperti ruang refleksi raksasa. Dari Banjarmasin yang terus tumbuh, Banjarbaru yang mencari identitas baru, hingga Tabalong sampai Kotabaru dengan denyutnya masing-masing. Semua bicara hal yang sama: pendidikan, kesejahteraan, demokrasi, lingkungan, masa depan anak muda. Semua terhubung seperti sungai yang bermuara ke laut yang sama.

1. Hardiknas: Antara Cita Merdeka dan Realitas Timpang
Hardiknas kembali mengingatkan: pendidikan bukan soal gedung, kurikulum, atau angka kelulusan. Tapi soal manusia yang merdeka berpikir dan sanggup menjawab zamannya.

Lihat Kalsel hari ini. Kesenjangan masih nyata. Kota vs pedalaman. Akses internet vs anak yang harus jalan kaki berkilo. Di saat dunia berlari dengan AI dan ekonomi digital, masih ada sekolah yang gentingnya bocor dan gurunya honorer belasan tahun.

Pendidikan tak boleh cuma cetak tenaga kerja. Ia harus lahirkan warga negara yang kritis. Yang paham krisis iklim sedang mengancam sungainya. Yang berani jaga kemanusiaan di tengah dunia yang makin individualis. Sebab kalau sekolah cuma hasilkan orang pintar tanpa nurani, kita sedang panen generasi yang canggih tapi buta pada derita tetangganya.

2. Hari Buruh: Angka Pertumbuhan vs Peluh di Lapangan
Awal Mei, jalanan bicara. Buruh sawit di bawah terik, pekerja tambang taruhan nyawa, buruh pelabuhan, guru honorer, perawat, hingga ojol yang tak masuk statistik. Mereka fondasi ekonomi Kalsel.

Ironinya, Kalsel kaya sumber daya alam. Tapi pertanyaannya tak pernah basi: sudahkah kekayaan itu jadi kesejahteraan merata? Pertumbuhan ekonomi tak selalu berarti hidup layak. Proyek investasi jalan, tapi masih ada yang upahnya di bawah UMR, tanpa BPJS, tanpa kepastian masa depan.

Hari Buruh bukan cuma soal demo upah. Ini soal pengakuan: bahwa setiap manusia yang bekerja berhak atas martabat. Berhak pulang bawa harapan, bukan cuma capek.

3. Reformasi: 28 Tahun, Sudah Sampai Mana?
21 Mei selalu datang dengan pertanyaan yang sama: cita-cita Reformasi sudah wujud?

Reformasi bukan cuma ganti rezim. Ia janji soal pemerintahan terbuka, adil, demokratis, berpihak ke rakyat. 28 tahun berlalu, korupsi masih jadi benalu. Ketimpangan masih nyata. Konflik lahan masih pecah. Partisipasi warga sering cuma jadi stempel.

Memang, ruang sipil di Kalsel tumbuh. Komunitas, mahasiswa, aktivis lingkungan makin vokal. Tapi demokrasi sehat tak cukup diukur dari bebas bicara. Ia diuji dari: apakah negara mau mendengar, lalu bertindak adil.

4. Lingkungan: Banua Bukan Warisan, Tapi Titipan
Mei di Kalsel tak bisa lepas dari bicara sungai dan hutan. Sungai bukan cuma jalur air. Ia identitas. Hutan bukan cuma kayu. Ia penyangga hidup.

Faktanya pahit: bentang alam berubah cepat. Banjir makin rutin. Sungai makin keruh. Keanekaragaman hayati terancam. Pembangunan perlu, tapi kalau abai daya dukung lingkungan, kita sedang utang ke anak cucu. Utang yang mahal sekali bunganya.

Tantangan Kalsel bukan memilih “ekonomi atau lingkungan”. Tantangannya: bagaimana dua-duanya jalan beriringan. Agar generasi depan tak mewarisi Banua yang rusak.

5. Harapan Itu Bernama Anak Muda
Di tengah rumitnya soal, ada satu cahaya: anak muda Banua bergerak. Mereka bikin komunitas baca, diskusi di warung kopi, pameran seni, kampanye sungai bersih, arsip sejarah lokal.

Mereka mungkin tak duduk di parlemen. Tapi mereka hadir lewat karya dan gerakan. Ini bukti kesadaran kritis masih hidup. Dan ini aset terbesar Kalsel hari ini. Sebab pembangunan butuh modal sosial, kreativitas, dan imajinasi kolektif. Bukan cuma modal uang.

Penutup: Mendengar Adalah Bentuk Kepemimpinan
Semua peringatan di Mei mengajarkan satu hal: pentingnya mendengar.

Dengar guru yang bicara pendidikan membebaskan. Dengar buruh yang bicara upah adil. Dengar petani yang bicara pangan. Dengar nelayan yang bicara laut yang berubah. Dengar masyarakat adat yang bicara tanah dan identitas. Dengar aktivis yang bicara keberlanjutan. Dengar anak muda yang bicara mimpi.

Seringkali, masalah muncul bukan karena rakyat tak punya gagasan. Tapi karena terlalu sedikit yang mau mendengar.

Mei akan berlalu. Spanduk diturunkan. Panggung dibongkar. Berita berganti. Tapi pertanyaan Mei jangan ikut hilang.

Kalsel hari ini di persimpangan: mau jadi daerah yang cuma kaya SDA, atau jadi daerah yang berhasil ubah kekayaan itu jadi pendidikan bermutu, lingkungan lestari, demokrasi sehat, dan hidup bermartabat?

Jawabannya sedang kita tulis bersama.

Selama masih ada guru yang mengabdi, buruh yang berharap, petani yang sabar menanam, nelayan yang berani melaut, seniman yang cinta berkarya, aktivis yang jaga nurani, dan anak muda yang tak berhenti bermimpi—selama itu harapan untuk Kalsel tetap menyala.

Seperti lampu kecil di tepian sungai. Bertahan di gelap malam. Menunjukkan arah bagi yang masih percaya: Banua yang adil, lestari, demokratis, dan bermartabat bukan utopia. Ia mungkin, jika kita wujudkan bersama.

Tinggalkan komentar