Seperti Ada Gus Dur Meliputi Prabowo


Dulu kita punya Gus Dur. 21 bulan doang jadi presiden, tapi cukup buat bikin cukong tambang uring-uringan. Dateng bawa map izin, pulangnya bawa kosong. Beliau bilang simpel aja: “SDA itu titipan. Jangan diobral.” Zaman itu kita belum ngerti betapa mahalnya kalimat “tahan dulu”. Sungai masih bening, gunung masih utuh, dan kepala daerah belum pada demam tanda tangan IUP.

Terus ganti Megawati. Awalnya adem. Tapi 2004 keluar Perpu. Isinya: buka 13 perusahaan tambang di hutan lindung. Freeport, Inco, Newmont dikasih lampu hijau. Alasannya klasik: demi investasi. Sejak itu kita belajar satu hal: ternyata “hutan lindung” cuma nama doang. Pintunya udah dibuka resmi.

Masuk SBY, kerannya dibuka lebar. Ada UU Minerba 2009, ada otonomi daerah. Alhasil 1 bupati bisa ngeluarin ribuan izin sambil ngopi. 10 tahun berkuasa, total IUP yang numpuk: 10.800 lebih. Ibaratnya negara bagi-bagi ATM ke 500 kepala daerah, PIN-nya “Tambang”. Jalan desa ancur, konflik lahan naik, tapi PAD daerah senyum. Ini era di mana tambang jadi mesin politik.

Puncaknya di Jokowi. Gaspol tapi pake narasi keren: hilirisasi, baterai EV, devisa. Data 2020 bilang ada 5.474 IUP aktif. Naik dari 3.161 di 2019. Walhi nyatet, selama 8 tahun Jokowi kasih izin tambang seluas 5,37 juta hektar. Total konsesi tambang di 2022 udah 10 juta hektar. 10 grup besar kuasai 21% nya.
Ironisnya, beliau juga yang paling banyak nyabut: 2.078 IUP dicabut 2022 karena mangkrak. Tangan kanan bagi, tangan kiri cabut.

Nah di 20 tahun “gaspol” ini lah muncul penyakit kronis: under invoicing. Ekspor CPO lapornya setengah harga. Batubara tonasenya dikurangin. Devisa muter ke perusahaan afiliasi di luar. Total yang bocor: US$900 miliar selama 34 tahun. Kita produsen sawit dan nikel nomor 1, tapi yang nentuin harga orang lain. Punya kebun durian terbesar, tapi yang nentuin harga 1 bijinya tetangga.

Sampai akhirnya 20 Mei 2026, Prabowo naik mimbar DPR dan ngebrak meja: “CUKUP!”
Keluar PP. Ekspor SDA wajib satu pintu lewat BUMN Danantara. Sawit, batu bara, ferro alloy semua lewat situ. Targetnya tambal bocor US$150 miliar per tahun. Beliau sebut under invoicing itu “fraud. Penipuan.” Dan nyuruh cabut 100+ izin di hutan lindung.


Gus Dur ngerem karena idealis. Dibilang ngalangin investasi.
Megawati buka keran dikit. Hutan lindung resmi dijebol.
SBY gaspol. Bupati jadi juragan tambang.
Jokowi gaspol + hilirisasi. Izin terbanyak, cabut terbanyak.
Prabowo sekarang nginjak rem tangan. Ngejar maling yang udah 20 tahun pesta.

Kita kangen Gus Dur bukan karena beliau dewa. Tapi karena di zaman beliau, negara masih punya malu kalau mau ngerampok.
Kita berharap ke Prabowo bukan karena naif. Tapi karena kita udah capek. Capek liat gunung dijual kiloan, laut dikeruhin, dan duitnya nggak balik ke desa.

Semoga Danantara beneran jadi palang pintu. Bukan jadi pintu belakang baru.
Semoga “penertiban” nggak berhenti di pidato.

Karena kalau gagal lagi… ya kita akan kangen lagi. Kangen ke presiden berikutnya yang berani bilang: “Tunggu dulu Mas.”


Tinggalkan komentar