KETIKA 7 NAMA JADI TEKA-TEKI DAN “HARTA PANAS” CARI TUANNYA


Kasus Febrie Adriansyah bukan lagi sekadar soal 1 mantan Jampidsus dan 74 kg emas. Ini sudah naik level jadi soal kepercayaan publik pada penegakan hukum.

1. “7 PENGUSAHA” DAN LIARNYA SPEKULASI NETIZEN

Setelah bocoran dari Podcast Bocor Alus Tempo keluar, publik langsung gaduh. Intinya: Febrie diduga menghubungi sejumlah pengusaha untuk “menolong” mengakui harta sitaan sebagai milik mereka.

Cica hanya memberi 2 kode: “pengusaha Kalimantan” dan “pengusaha bola”.
Dari situlah netizen langsung bekerja. Nama Haji Isam dan Erick Thohir jadi yang paling banyak disebut. Alasannya sederhana: kodenya “kebetulan” terlalu pas dengan profil publik mereka.

Tapi mari jujur. Itu spekulasi. Liar? Iya. Karena sampai hari ini tidak ada 1 pun bukti, nama, atau klarifikasi resmi. 7 pengusaha itu bisa siapa saja. Bisa A, B, C. Bisa juga bukan yang kita tebak.

Netizen berspekulasi karena ruang informasi ditutup. Kalau penyidik dari awal transparan, maka ruang liar ini tidak akan selebar ini.

2. APA MUNGKIN ADA “PENGUSAHA TOP” YANG RELA BERKORBAN?

Jawabannya: secara logika bisnis, kecil kemungkinannya.

“Berkorban” dalam kasus ini artinya: siap diperiksa PPATK, siap diperiksa pajak, siap nama hancur, siap dipenjara karena TPPU. Untuk apa? Demi “nolongin” orang lain?

Orang di level top mainnya pakai lapisan. Pakai nominee. Pakai direktur. Pakai perusahaan cangkang.
Kalau sampai maju sendiri, itu artinya 2 hal:

  1. Dia memang aktor utamanya.
  2. Dia sudah tidak punya pilihan lain karena bukti sudah menunjuk ke dia.

Jadi kemungkinan besar “pengorbanan” itu tidak akan datang dari “top 7”. Kalau ada, itu dari level di bawahnya.

3. MUNGKINKAH 7 PENGUSAHA ITU TERLIBAT DI 3 PERKARA BESAR?

Ini pertanyaan kuncinya.

Kita punya 3 kasus: ASABRI, Krakatau Steel, Batubara PLTU. Kerugiannya bukan miliaran, tapi triliunan. Pola korupsi sebesar ini hampir mustahil jalan sendirian. Pasti ada jejaring. Ada pemberi. Ada penerima. Ada pengaman.

Jika benar harta di Sentul itu “dana bersama” untuk “mengamankan” 3 perkara itu, maka sangat mungkin orang-orang yang dananya ada di situ adalah orang-orang yang juga diuntungkan dari 3 perkara itu.

Jadi, “mungkinkah 7 itu terlibat?”
Jawabannya: Mungkin. Tapi belum tentu.
Bisa jadi 2 dari 7 itu terlibat. Bisa jadi 7-7nya tidak tahu apa-apa dan hanya didekati Febrie. Bisa juga 7 orang baru lagi yang namanya belum muncul.

Itulah kenapa publik menuntut penyidikan tuntas. Bukan berhenti di Febrie + Don Ritto.

KESIMPULAN

Kasus ini sekarang seperti bola salju.
Di satu sisi ada upaya “mendinginkan” dengan cari kambing hitam.
Di sisi lain ada tekanan publik yang makin besar untuk “membongkar”.

Selama “7 nama” itu masih jadi misteri, maka spekulasi liar akan terus hidup. Dan selama spekulasinya hidup, maka citra penegakan hukum akan terus diuji.

Tugas penyidik sekarang sederhana: Buka. Sebut. Buktikan.
Karena keadilan tidak bisa dibangun di atas teka-teki.


Tinggalkan komentar