
BANJAR BUKAN PROYEK, BANJAR ITU RUMAH
Oleh: Rakyat Banjar
Kami Banjar sudah muak.
Muak sama pejabat yang datang ke Kalsel cuma nyari sugih.
Datang pas butuh suara, pas butuh tambang, pas butuh proyek.
Pas udah duduk? Lupa. Jalan rusak, listrik padam, harga anjlok.
Kami tidak butuh siapa pun yang isi pos penting penegakan hukum
- Kapolda, Kajati, Panglima –
kalau kerjanya cuma “selingkuh dengan oligarki dan birokrat nakal”.
Kasus maling ayam 2 hari P21.
Kasus korupsi miliaran tahunan masih “dalam proses”.
Itu bukan penegakan hukum. Itu lelang keadilan.
Hukum jadi tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Karena kursinya titipan. Karena takut sama sponsor, bukan takut sama Allah.
Pemimpin yang kami butuh sederhana:
Yang mau mensejahterakan masyarakat bawah.
Yang ngerti harga beras, yang rasain padam bareng kami,
yang anggarannya turun ke pasar, ke sawah, ke puskesmas, bukan ke baliho.
Yang berani bilang “tidak” ke oligarki.
Yang kalau ada temennya korupsi, dia yang pertama nyeret ke pengadilan.
Banjar ini lumbung energi, lumbung pangan, lumbung suara.
Tapi kenapa rakyatnya masih miskin?
Jawabannya: Karena terlalu banyak “tamu” yang ngaku pemimpin.
Keruk, pamit, tinggalin luka.
Pesan kami:
- Jangan datang kalau cuma mau ngambil. Datang kalau mau nambahin.
- Kursi itu amanah. Bukan ATM.
- Tegakkan hukum. Atau hukum yang akan menegakkan kalian.
Kami nggak punya pangkat.
Kami nggak punya sponsor.
Yang kami punya cuma HP, data, doa, dan kompak.
Ingat: Sabar Banjar ada batasnya.
Dan batas itu namanya keadilan.
Martapura, 25 Juli 2026
Dari “313 Komunikasi Kalsel”
“Banjar bukan ATM.
Jangan datang nyari sugih.
Kami butuh pemimpin yang bikin bawah sejahtera,
bukan penegak hukum yang selingkuh sama oligarki.”
#BanjarBukanProyek #TegakHukum








Tinggalkan komentar