
MARTAPURA – BPBD Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luasan sekitar 185 hektare yang tersebar di 14 kecamatan dan 42 desa. Pemerintah Kabupaten Banjar pun menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan yang berlaku mulai 15 Juli hingga 30 September 2026 untuk memperkuat upaya penanganan di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha saat ditemui, Senin (27/7/2026).
Wasis mengatakan, penetapan status siaga menjadi dasar bagi BPBD untuk mengoptimalkan penanganan karhutla, termasuk mengaktifkan posko induk di BPBD serta posko lapangan di Kecamatan Martapura Barat dan Desa Beruntung Baru.
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah masih menjadi titik rawan terjadinya karhutla, di antaranya kawasan Tungkaran sekitaran Makam Datu Bagul, beberapa titik di Kecamatan Cintapuri Darussalam seperti Desa Sindang Jaya, serta wilayah Pulau Nyiur Kecamatan Karangintan.
Menurutnya, khusus di kawasan Karangintan, proses pemadaman turut diperkuat oleh tim Manggala Agni karena lokasi tersebut merupakan kawasan hutan.
Dalam upaya pemadaman, BPBD terlebih dahulu mengerahkan personel dan peralatan yang dapat menjangkau lokasi kebakaran. Namun apabila titik api berada di area yang sulit diakses melalui jalur darat, pihaknya akan berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengajukan bantuan pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing.
“Kalau memang lokasi kebakaran tidak bisa dijangkau secara maksimal dari darat, kami akan melaporkan kepada BPBD Provinsi Kalimantan Selatan agar dilakukan pemadaman melalui water bombing,” ujarnya.
Wasis menambahkan, pemadaman juga diprioritaskan pada titik api yang berada di sekitar kawasan permukiman. Salah satunya kebakaran yang terjadi di kawasan Tungkaran karena lokasinya berdekatan dengan perumahan dan pondok pesantren.
“Lokasi yang dekat dengan permukiman tentu menjadi prioritas kami dalam penanganan. Kami juga bekerja sama dengan TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan pemadam kebakaran,” katanya.
Mengenai penyebab kebakaran hutan dan lahan, Wasis menegaskan pihaknya belum dapat memastikan faktor penyebab munculnya titik api karena hingga kini belum ditemukan bukti yang mengarah pada penyebab tertentu.
“Kami tidak bisa menyimpulkan penyebabnya karena memang belum ada bukti. Jadi kami tidak ingin berspekulasi,” pungkasnya.(zr)








Tinggalkan komentar