SIARAN PERS
Untuk Disiarkan Segera
Kontak: Wira Surya Wibawa, S.H., M.H. | Extinction Rebellion Indonesia

“Sungai Adalah Nadi Kehidupan, Mangrove Adalah Penjaga Masa Depan”
LOK BAINTAN, KALIMANTAN SELATAN – 31 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Sungai dan menyoroti pentingnya ekosistem mangrove, Extinction Rebellion Indonesia bersama XR Banjarmasin dan XR Meratus menggelar aksi kampanye lingkungan di kawasan Pasar Terapung Lok Baintan, Kalimantan Selatan.
Aksi ini menyasar langsung masyarakat yang hidupnya bergantung pada sungai. Dengan menggunakan perahu-perahu tradisional, para aktivis membentangkan poster-poster kampanye di tengah aktivitas jual beli warga Lok Baintan.
Beberapa pesan yang digaungkan:
“SUNGAI ADALAH HIDUP DAN PENGHIDUPAN RAKYAT”
“SUNGAI BERSIH DAN BAIK ADALAH MASA DEPAN CERAH”
“MARI LINDUNGI PESISIR, ATASI BANJIR ROB”
“LINDUNGI SUNGAI BORNEO DARI SAMPAH”
“SAVE MERATUS, SAVE KALIMANTAN SELATAN”
“AKU KAMU KITA SEMUA ADALAH BAGIAN PENTING DARI SUNGAI YANG BAIK”
Sungai Bukan Sekadar Air, Tapi Ruang Hidup
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, sungai adalah segalanya. Di Pasar Terapung Lok Baintan, sungai menjadi ruang ekonomi, jalur transportasi, sumber pangan, sekaligus identitas budaya.
Namun realitas itu kini terancam. Sampah, limbah industri, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem kian menggerus daya dukung sungai.
“Jika sungai tercemar, maka kehidupan masyarakat ikut terancam. Jika sungai rusak, maka ekonomi rakyat ikut terdampak. Jika sungai kehilangan fungsinya, maka masa depan generasi mendatang juga dipertaruhkan,” ujar perwakilan XR dalam aksi tersebut.
Mangrove: Benteng Alami yang Terlupakan
XR Indonesia, XR Banjarmasin, dan XR Meratus menegaskan bahwa perlindungan sungai tidak bisa dipisahkan dari perlindungan ekosistem pesisir dan mangrove.
Mangrove berfungsi sebagai habitat biota, penahan abrasi, dan benteng alami dari banjir rob akibat perubahan iklim. Kerusakan mangrove berarti meningkatnya kerentanan masyarakat pesisir.
“Menjaga sungai dari hulu hingga hilir adalah tanggung jawab bersama. Kerusakan di Meratus akan berdampak ke Banjarmasin, dan pencemaran sungai akan bermuara ke laut,” tegas XR.
Krisis Lingkungan adalah Krisis Keadilan
Aksi ini juga menjadi seruan menghadapi krisis iklim. Dampaknya tidak abstrak: pola cuaca berubah, banjir rob, abrasi, dan bencana ekologis lainnya paling dulu dirasakan oleh masyarakat yang hidup dari alam.
“Oleh karena itu, hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat tidak boleh dikorbankan demi pembangunan jangka pendek,” lanjut XR.
7 Seruan XR untuk Masa Depan Sungai dan Pesisir
Melalui aksi di Lok Baintan, XR menyerukan:
- Hentikan pencemaran sungai dan pembuangan sampah ke badan air.
- Perkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap perusak lingkungan.
- Lindungi dan pulihkan ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir.
- Dorong kebijakan pengelolaan sungai dan pesisir yang berpihak pada rakyat dan keberlanjutan.
- Libatkan masyarakat dalam setiap keputusan terkait ruang hidup mereka.
- Hentikan praktik pembangunan yang mengorbankan sungai, hutan, mangrove, dan pesisir.
- Bangun kesadaran kolektif untuk menjaga sungai dari sampah dan polusi.
“Menjaga sungai bukan tugas satu organisasi. Pemerintah harus hadir, pelaku usaha harus bertanggung jawab, dan masyarakat harus dilibatkan,” tutup XR.
Dari Pasar Terapung Lok Baintan, XR mengingatkan:
Sungai bukan tempat sampah. Sungai adalah ruang hidup. Mangrove adalah penjaga pesisir. Dan menjaga keduanya berarti menjaga masa depan.
Jika sungai hilang, yang hilang bukan hanya air. Yang hilang adalah mata pencaharian, pangan, budaya, keanekaragaman hayati, dan masa depan anak cucu kita.
🌊 Sungai hidup, rakyat hidup!
🌱 Mangrove lestari, pesisir terlindungi!
✊ Jaga sungai, jaga mangrove, jaga kehidupan!
Extinction Rebellion Indonesia
XR Banjarmasin × XR Meratus
#HariSungai #HariMangrove #SaveOurRiver #JagaSungai #JagaMangrove #SungaiAdalahKehidupan #SaveMeratus #SaveKalimantanSelatan








Tinggalkan komentar