
Oleh: Warga Kalimantan Selatan
Selamat datang di Banua, Pak Sukarmadji Sumarton.
12 Agustus 2026 Bapak dilantik jadi Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan. Kami menyambut dengan 2 perasaan: harap dan lelah.
Harap, karena kami butuh jaksa.
Lelah, karena selama ini kami sering dapatnya “lintah”.
Kalsel ini kaya. Batubara, CPO, laut, APBD triliunan. Tapi rakyatnya sering cuma dapat debu dan banjir. Kenapa? Karena hukumnya sering tumpul ke atas, tajam ke bawah.
“Sinergi” yang sering kami dengar, ujungnya sering berubah jadi “kongkalikong”. Ada fee proyek biar aman. Ada “uang koordinasi” biar kasus adem. Ada damai di meja biar gak ke pengadilan.
Akibatnya? APH = Alat Pemeras Harta, bukan Aparat Penegak Hukum.
Pak, kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya minta Penegakan Hukum.
- Tegas tanpa pandang bulu. Pejabat, pengusaha, rakyat. Sama. Jangan ada “dewa” yang kebal hukum.
- Berani. Berani sentuh mafia tambang, mafia perizinan, bancakan dana hibah dan dana desa. Itu PR terbesar Kalsel.
- Transparan. Buka penanganan kasus. Biar kami bisa ngawal. Biar gak ada main di belakang.
- Bersih. Kalau Bapak datang ke Kalsel hanya untuk “nyari sugih”, lebih baik pulang ke Jakarta. Jangan kotori Banua lagi.
Kami tahu tugas jaksa berat. Ada “pengawalan” dan ada “penindakan”. Tapi ingat Pak, pagar jangan ikut makan tanaman.
Kalsel sudah terlalu lama jadi sapi perahan. Sudah saatnya ada yang jadi gembalanya.
100 hari pertama Bapak akan kami awasi. Bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk memastikan Bapak jadi obat, bukan penyakit baru.
Selamat bertugas, Pak. Buktikan bahwa Adhyaksa masih punya taring.
“Hukum harus tajam ke atas, tajam ke bawah. Jangan tumpul ke samping”
Banjarmasin, Agustus 2026
Warga Kalimantan Selatan








Tinggalkan komentar