
Oleh: Adi Permana
Di antara para Nabi ada yang super kaya, ada yang sederhana, bahkan ada yang miskin. Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang tak tertandingi, Nabi Yusuf menjadi bendahara Mesir, Nabi Daud raja dan pandai besi. Tapi ada juga Nabi Isa yang tidak punya rumah, bantalnya batu, Nabi Zakaria tukang kayu, Nabi Muhammad yang memilih lapar padahal gunung Uhud bisa jadi emas jika beliau mau.
Bedanya mereka bukan di kaya atau miskin. Bedanya di arah hartanya. Harta itu hanya lewat di tangan, tidak pernah masuk ke hati. Masuk di tangan kanan, langsung keluar di tangan kiri untuk kebaikan dan tuntunan Tuhan. Mereka tidak serakah. Mereka ditugaskan untuk bermanfaat bagi umat.
Berbanding terbalik dengan oknum penguasa dan oknum pemuka agama hari ini. Haus kuasa, haus harta, haus gelar. Jika tidak sadar, mereka akan terus melawan Tuhan Yang Maha Esa.
Jejak Arkeologi: Pertarungan Itu Nyata
Sejarah sudah jelas. Arkeologi sudah menemukan jejaknya. Semua itu sengaja disisakan Tuhan agar jadi pelajaran, agar manusia yang masih hidup tidak tersesat jalan menuju Tuhan.
Lihatlah:
Kaum Ad yang kaya raya membangun Iram dengan tiang-tiang tinggi, kini ditemukan sebagai kota Ubar yang terkubur pasir di Oman. Kaum Tsamud yang memahat rumah di gunung batu di Madain Saleh, kini jadi kota mati yang tak berpenghuni. Firaun yang mengaku Tuhan, jasadnya diselamatkan Tuhan dan kini terbaring di Museum Kairo — seperti firman Allah: “Hari ini Kami selamatkan jasadmu agar jadi pelajaran bagi orang setelahmu.” (QS Yunus: 92).
Benua Sundaland kita pun sama. Tanah paling subur di muka bumi, seluas India, tempat sungai Barito, Kapuas, Musi dan Chao Phraya menyatu, tenggelam dalam satu hari satu malam karena banjir besar — persis seperti yang dicatat Plato tentang Atlantis. Situsnya ada di Selat Gaspar, Bangka-Belitung. Peradaban hebat bisa hilang seketika jika sudah sombong.
Semua ini adalah museum peringatan: yang menang bukan yang paling kaya, bukan yang paling kuat, tapi yang paling taat.
Penyakit Lama: Takut Mati Tapi Sombong
Mereka — oknum penguasa dan pemuka umat yang zalim itu — sejatinya sudah mendapat penyuluhan dari para nabi, bahkan melihat langsung mukjizat anugerah Tuhan. Firaun melihat tongkat Musa menjadi ular, melihat laut terbelah. Tapi kesombongan membuat mereka ingkar. Padahal Qur’an berkata: “Mereka ingkar padahal hati mereka yakin.” (QS An-Naml: 14).
Hati kecil mereka tetap takut mati. Lihat bagaimana Firaun terobsesi agar selamat di akhirat dengan mengawetkan jasadnya, membangun piramida, membawa harta dan dewa-dewa ke dalam kubur. Raja-raja Mesopotamia membangun ziggurat dan kubur emas dengan doa ke Marduk. Kaisar China Qin Shi Huang membuat 8.000 pasukan terakota dan mencari pil keabadian. Raja-raja India membangun kuil raksasa. Di mana-mana polanya sama.
Itikad batin mereka keliru. Mereka masih menyekutukan Tuhan dengan dewa-dewa yang banyak. Mereka ingin selamat di akhirat, tapi tidak mau mengesakan Tuhan. Mereka ingin tetap jadi raja di akhirat dengan menyuap dewa-dewa.
Sedangkan pengikut para nabi? Hanya sedikit. Dan yang sedikit itu pun kebanyakan orang lemah, orang yang kurang berada. Pengikut Nuh tukang kayu dan buruh. Pengikut Musa adalah budak Bani Israil. Pengikut Isa nelayan miskin. Pengikut Muhammad awal adalah Bilal budak hitam, Ammar tukang batu, Salman orang asing. Kenapa? Karena orang lemah tidak punya apa-apa untuk disombongkan, sehingga lebih mudah berkata: “Aku serahkan diriku kepada Tuhan Yang Esa.”
Berhala Baru di Tanah Banjar
Dulu berhala itu bernama Wadd, Suwa, Latta, Uzza, Ra, Osiris, Marduk. Hari ini berhala itu berganti nama: harta, jabatan, kekuasaan, gelar nasab, kesenangan nafsu syahwat, konten viral, jumlah like.
Inilah motivasi saya mengangkat sejarah geneologi dan arkeologi peradaban. Bukan untuk gagah-gagahan. Tapi agar manusia kembali mempelajari sejarah, agar ingat jati diri sebagai hamba yang diciptakan dan dikasih sayangi Tuhan. Agar lurus tujuannya menuju keridhaan Tuhan semata, bukan menyekutukan Tuhan dengan berhala-berhala baru itu.
Di Martapura kita, kita menyaksikan sendiri bagaimana nasab bisa menjadi berhala baru. Orang berebut gelar Sayyid, Habib, Azmatkhan, cucu Walisongo, cucu raja. Padahal darah yang mulia pun tidak menjamin selamat. Abu Lahab adalah paman kandung Nabi, darahnya paling mulia, tapi tidak selamat karena sombong.
Pesan Abah Guru Sekumpul: Jangan Bangga Nasab, Jadilah Wali
Sampai akhirnya saya teringat pesan Abah Guru Sekumpul, Guru Zaini bin Abdul Ghani, ulama kebanggaan Martapura:
“Andai kita tidak berbangga-bangga berlebihan akan nasab, akan jadi wali — artinya selamat. Kalau kita beramal, beribadah ikhlas, akan jadi wali, selamat.”
Kalimat pendek, tapi menghancurkan semua berhala.
Abah Guru sendiri nasabnya jelas Al-Banjari, cucu Syech Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), zuriat Rasulullah. Tapi beliau tidak pernah minta dipanggil Sayyid. Rumahnya sederhana di Keraton, bajunya putih sederhana, hidupnya untuk beramal ikhlas dan menangis mendoakan umat di sepertiga malam.
Beliau mengajarkan: jalan selamat itu bukan dengan membanggakan darah, tapi dengan mengikhlaskan amal. Bukan dengan mengawetkan jasad seperti Firaun agar dikira abadi, tapi dengan menghidupkan hati agar ingat Tuhan.
Itulah wali. Selamat.
Penutup: Kembali Mengesakan Tuhan
Tugas 124.000 nabi dari dulu sampai sekarang sama: membebaskan manusia dari menyembah berhala, dan mengajak kembali mengesakan Tuhan.
Hari ini tugas itu ada di pundak kita — jurnalis, guru, petani, pedagang di pasar Martapura, penambang di Kotabaru. Jangan biarkan harta menjadi Tuhan baru. Jangan biarkan jabatan menjadi Tuhan baru. Jangan biarkan nasab dan gelar menjadi Tuhan baru.
Kayuh baimbai, harta babagi. Itu ajaran Banjar. Itu ajaran Nabi.
Mari kita kembali. Kembali menjadi hamba yang dikasihi Tuhan. Kembali menuju ridha-Nya semata.
Wallahu A’lam.








Tinggalkan Balasan