
Jagat maya hari ini tidak ubahnya sebuah panggung bising raksasa. Jika kita menguliti jutaan lalu lintas informasi, perdebatan viral, hingga tren yang datang dan pergi di internet, poros penggeraknya hampir selalu berputar pada tiga hal purba: perburuan harta, perebutan tahta jabatan, dan eksploitasi gairah terhadap lawan jenis.
Manusia modern berkejaran mengejar angka-angka validasi semu tersebut, mengira bahwa di ujung pencapaian itu terletak sebuah piala bernama kebahagiaan. Namun yang sering kali luput disadari, tiga pilar duniawi ini justru merupakan hulu dari segala bentuk luka batin dan kekecewaan yang melelahkan, sebagaimana diingatkan Allah dalam Al-Qur’an: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak… Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS. Ali ‘Imran: 14).
Ketika seseorang menaruh puncak kecintaan dan rasa kepemilikannya (feel of ownership) pada harta, batinnya seketika terjebak dalam dua lapis penderitaan. Harta yang dikejar mati-matian pada akhirnya hanya akan menjadi cobaan harian dan fitnah kubur yang memberatkan pertanggungjawaban (QS. At-Taghabun: 15).
Begitu pula dengan tahta dan karir. Pengejaran jabatan selalu menuntut pemuasan ego kelompok yang melelahkan, menguras energi batin untuk intrik politik yang penuh kepalsuan, hingga pada akhirnya tahta itu hanya akan menjelma menjadi penyesalan yang mendalam di akhir masa ketika semua kekuasaan runtuh tak bersisa, seperti keluhan yang diabadikan dalam Kitab Suci: “Hartaku sama sekali tidak memberi manfaat kepadaku. Kekuasaanku (tahtaku) telah hilang dariku” (QS. Al-Haqqah: 28-29).
Sementara itu, gairah terhadap wanita dan lawan jenis, jika dijadikan kiblat utama tempat batin bersandar, lambat laun akan memalingkan jiwa dari tujuan sejati penciptaan manusia: yakni meraih kecintaan dan keridhoan Allah dan Rasulullah.
Rasa sakit hati, cemas, dan hampa itu sebenarnya adalah hidayah yang menyamar. Ia adalah mekanisme yang sengaja dihadirkan Tuhan untuk menutup pintu-pintu sandaran semu. Menurut mutiara hikmah Ibnu Atha’illah Al-Iskandari dalam Kitab Al-Hikam, “Sengaja Tuhan membuatmu putus harapan dari makhluk-Nya, agar Dia membuka kembali pintu gerbang harapanmu semata-mata hanya kepada-Nya.” Ketika seseorang akhirnya lelah dan memutuskan untuk melepaskan klaim kepemilikan atas dunia, di situlah gerbang jalan kesejatian mulai terbuka lebar.
Al-Qur’an dan Sunnah telah meletakkan garis batas yang tegas mengenai hierarki kecintaan ini. Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis sahihnya: “Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mencintai Allah dan Rasul-Nya bukanlah sebuah dogma mistis yang menjauhkan manusia dari realitas bumi. Ini adalah sebuah kecerdasan logis dan kemandirian spiritual tingkat tinggi. Seseorang yang telah menemukan Allah di dalam hatinya tidak lagi merasa kehilangan apa pun di dunia ini, seirama dengan untaian syair sufi, “Apakah yang didapat oleh orang yang kehilangan Engkau (Allah)? Dan apakah yang kehilangan bagi orang yang telah menemukan-Mu?”
Ketika orientasi batin digeser dari yang fana menuju Yang Maha Kekal, rumah batin kita tidak lagi bisa diacak-acak oleh kebisingan luar. Harta yang ada di tangan berubah status menjadi sekadar amanah untuk menebar manfaat, tahta jabatan melandai menjadi tanggung jawab menegakkan keadilan, dan pasangan hidup dipandang sebagai titipan rasa kasih sayang yang sakral dari-Nya. Kita tidak lagi mendikte takdir atau memaksakan keinginan ego personal kepada keadaan.
Pada akhirnya, hidup dan mati manusia sejatinya memang hanya dikembalikan untuk Allah (QS. Al-An’am: 162). Berlatih untuk tetap tenang dan bahagia meski tidak berjalan bersama arus utama dunia adalah sebuah kemerdelaan jiwa yang sejati. Di tengah dunia yang terus riuh berputar pada gairah instannya yang bising, mampu duduk diam dengan hati yang rida, nrimo ing pandum, serta merasa utuh hanya dengan bersandar pada Allah dan Rasul-Nya adalah kemewahan batin tertinggi yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan traffic duniawi sebesar apa pun. (adi permana)
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim (Kementerian Agama Republik Indonesia).
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Kitab al-Iman, Bab Hubb ar-Rasul minal-Iman.
- Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Kitab al-Iman, Bab Wujub Hubbi Rasulillah aktsara minal-Ahli wal-Waladi wan-Nas.
- Al-Iskandari, Ibnu Atha’illah. Kitab Al-Hikam.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulumuddin. Kitab Dzamm al-Dunya (Tercelanya Dunia








Tinggalkan Balasan